Monday, 30 Sya'ban 1442 / 12 April 2021

Monday, 30 Sya'ban 1442 / 12 April 2021

Kondisi Relawan Vaksin Covid 19, Ridwan Kamil: Fit...

Senin 14 Dec 2020 20:10 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Agus Yulianto

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (tengah), Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Nugroho Budi Wiryanto (kanan) dan Kajati Jawa Barat Ade Adhyaksa (kiri) melambaikan tangan kepada wartawan usai diambil darahnya dalam acara pengambilan darah relawan vaksin di Puskesmas Garuda, Kota Bandung, Senin (14/12). Pengambilan darah kali ini merupakan uji klinis vaksin yang ketiga kalinya (V3) sekaligus untuk dilihat hasil akhir bagi mana reaksi peningkatan antibodi dalam darah.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (tengah), Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Nugroho Budi Wiryanto (kanan) dan Kajati Jawa Barat Ade Adhyaksa (kiri) melambaikan tangan kepada wartawan usai diambil darahnya dalam acara pengambilan darah relawan vaksin di Puskesmas Garuda, Kota Bandung, Senin (14/12). Pengambilan darah kali ini merupakan uji klinis vaksin yang ketiga kalinya (V3) sekaligus untuk dilihat hasil akhir bagi mana reaksi peningkatan antibodi dalam darah.

Foto: Edi Yusuf/Republika
Warga Jabar 93 persen sudah tahu tentang vaksin dan vaksinasi.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Gubernur Jabar Ridwan Kamil kembali hadir melaksanakan kewajiban sebagai relawan vaksin, ke Puskesmas Garuda, Senin (14/12). Dia hadir untuk diambil darah yang kedua di tiga bulan setelah penyuntikan pertama.

"Kami sampai hari ini khususnya Forkopimda yang jadi relawan melaporkan semua sehat, fit tidak ada masalah selama berbulan ini tak ada kendala sakit, kami juga berkali-kali diswab. Alhamdulillah negatif, apakah karena faktor vaksin atau tidak belum bisa disimpulkan tapi yang kami rasakan itu faktanya," ujar Ridwan Kamil yang akrab disapa Emil.

Namun, kata Emil, hanya ada perubahan dari BPOM ternyata relawan vaksin Covid 19 Bio Farma ini harus dicek, tidak hanya tiga bulan seperti bulan ini. Tapi, juga di saat enam bulan.

"Jadi artinya, kami harus diambil darah lagi di bulan Maret. Jadi, yang tadinya kita sampaikan pengumuman berhasil atau tidaknya vaksin Covid 19 ini di bulan Desember, kemungkinan akan diundur ke bulan Maret," katanya.

Karena, kata dia, BPOM ingin memastikan kandungan dari antibodi relawan itu berlimpah di rentang waktu yang lebih panjang. "Jadi tentunya saya memberikan berita ini, sehingga kepada warga mari kita 3M karena vaksin tidak secepat yang kita harapkan," katanya. 

Selain itu, kata dia, ia tadi rapat dengan pemerintah pusat terkait penanggulangan Covid 19. Saat itu, disampaikan bahwa ada vaksin yang sudah jadi yang memang sudah dibeli langsung dan sekarang ada di gudang Bio Farma. 

Kalau sudah melewati tes ketiga, maka tinggal diumumkan secara resmi oleh BPOM. "Jadi bolanya ada di BPOM untuk tipe vaksin yang diimpor langsung, dan itu kalau ada karena jumlahnya terbatas hanya 1 juta sekian itu," katanya.

Sehingga, kata dia, vaksin akan diprioritaskan tentunya untuk tenaga kesehatan, TNI polri kemudian profesi yang rawan dalam pelayanan publik dan warga di zona merah.

"Mayoritas warga Indonesia akan menggunakan vaksin yang saya dan Forkopimda menjadi relawan. Saya kira itu, mohon bersabarnya," katanya.

Menurut Emil, pihaknya melakukan survey bahwa warga Jabar 93 persen sudah tahu tentang vaksin dan vaksinasi. Karenanya, dia mengucapkan terima kasih ke rekan media. Dari hasil survey juga, kurang lebih hanya 14 persen yang tidak mau divaksin, jadi mayoritas mau dan menunggu kabar. 

Emil menilai, edukasi vaksin sudah sangat baik. Sedangkan masyarakat yang menunggu, karena ingin lebih tahu detail. Oleh karena itu, media terus mengedukasi tentang vaksin karena itulah satu-satunya cara kita mengakhiri pandemi, yang sakitnya sembuh oleh obat dan yang sehatnya imun melalui vaksin.

"Nah, terkait Jabar sendiri, itulah kenapa kami menjadi relawan, untuk menjawab kekhawatiran. Jadi, kalau kami bertiga atau yang hadir sekarang sehat, tidak pernah ada swab yang hasilnya positif, apakah itu karena vaksin? Jangan-jangan, kami menduga begitu, artinya itu kan berita baik," paparnya.

Namun, Emil tidak bisa mendahului keputusan klinis apakah itu karena vaksin atau faktor lain. Jadi, dia akan jujur kalau sakit atau gagal, maka akan disampaikan. Karena, ini menyangkut kesehatan dan nyawa manusia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA