Monday, 5 Jumadil Akhir 1442 / 18 January 2021

Monday, 5 Jumadil Akhir 1442 / 18 January 2021

'Soal Keteladanan Paling Penting Dimulai dari Sikap'

Jumat 04 Dec 2020 19:04 WIB

Red: Fernan Rahadi

Ilustrasi Ulama

Ilustrasi Ulama

Foto: Foto : MgRol112
Ulama itu menjadi patron, yang mana yang diucapkan pasti akan diikuti pengikutnya.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dakwah hakikatnya adalah mengajak kepada kebaikan. Maka mengajak kepada kebaikan harus dengan cara yang baik. Seperti itulah metode yang dilakukan para penyebar Islam awal dengan menginternalisasikan nilai Islam dalam konteks lokalitas dengan cara santun dan sejuk. Dakwah yang merangkul, bukan memukul dan dakwah yang membawa rahmat, bukan laknat.

Bendahara Umum Pengurus Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (PP Muslimat NU) Andi Nurhiyari Jamaro, mengatakan soal keteladanan itu yang paling penting dimulai dari sikap. Karena itulah yang akan ditiru oleh umat atau yang akan menjadi panutan bagi mereka.

"Karena ulama itu kan panutan, oleh karena itu sangatlah penting bagi ulama untuk menunjukkan sikap yang baik maupun dari cara bertutur katanya," kata Andi Nurhiyari Jamaro di Jakarta, Jumat (4/12).

Karena, menurut Andi, ulama itu selalu menjadi patron, yang mana apa yang ia ucapkan pasti akan diikuti oleh pengikutnya dan dianggap itu adalah sesuatu yang benar dan akan ditiru.  Oleh karena itu ia mengingatkan bahwa para pemuka agama atau tokoh agama itu haruslah menjaga betul sikap dan tutur katanya.

"Kalau masyarakat sendiri yang menjadi pilihannya pasti yang dia idolakan sesuai dengan dirinya. Karena biasanya ulama-ulama yang diikuti ini dianggap bisa memberikan jalan keluar atau memberi kebutuhan-kebutuhan spirit kepada masyarakat," ucap Andi.

Lebih lanjut, ia berharap agar masyarakat bisa memilah ulama-ulama dari tutur kata dan cara bersikapnya. Karena menurutnya, masyarakat sendiri sekarang sudah sangat cerdas. Karena di dalam pelajaran agama juga sudah diajarkan tata krama dan sopan santun.

"Maka kalau dari awal dia sudah belajar, harusnya dia juga sudah paham itu, tidak boleh untuk mencaci orang dan sebagainya. Karena ada cara yang lebih sopan dan santun, kalau memang ada masalah ya tentunya bisa dibicarakan," tuturnya.

Selain itu, dirinya juga berharap kepada para generasi muda supaya untuk lebih selektif, jangan terlalu cepat menanggapi jika ada sesuatu hal. Yang mana tentunya harus dikaji terlebih dahulu baru kemudian ditanggapi.

Ia berharap agar para generasi muda tidak ikut-ikutan kalau tidak paham dengan apa sesungguhnya tujuan sebenarnya dari suatu gerakan. Andi sendiri juga mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi hal ini.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA