Wednesday, 7 Jumadil Akhir 1442 / 20 January 2021

Wednesday, 7 Jumadil Akhir 1442 / 20 January 2021

‘Berburu’ Tenang di Desa Sukatenang

Sabtu 05 Dec 2020 06:38 WIB

Rep: Uji Sukma Medianti/ Red: Bilal Ramadhan

Sekolah Alam Prasasti, Kampung Piket Indah, Desa Sukatenang, Sukawangi, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat

Sekolah Alam Prasasti, Kampung Piket Indah, Desa Sukatenang, Sukawangi, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat

Foto: Uji Sukma Medianti
Usai belajar, para siswa memboyong kambing domba untuk diberi makan rumput dan daun.

REPUBLIKA.CO.ID, Omsa Nurjanah (38 tahun) melepas anak kelimanya yang baru berusia sembilan bulan di teras sekolah alam. Tak seperti ibu-ibu pada umumnya, ia justru santai ketika anaknya yang masih belum mampu untuk berdiri dan jalan kali itu jatuh ke tanah.

"Biar kuat," tutur Omsa saat ditemui Republika di Sekolah Alam Prasasti, Kampung Piket Indah, Desa Sukatenang, Sukawangi, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, akhir pekan lalu.

Anak terakhir Omsa merupakan laki-laki. Warna kulitnya putih langsat sama seperti tiga kakak perempuan dan satu kakak lelakinya. Jarak umur anak-anak Omsa dan suaminya memang tak jauh. Maklum, ia tidak mengikuti program Keluarga Berencana (KB).

Omsa hijrah ke Desa Sukatenang sejak lima bulan lalu. Kebetulan, sang suami adalah teman organisasi pemilik Sekolah Alam Prasasti saat masa mengenyam bangku kuliah dulu. Keputusan Omsa dan suami untuk memboyong lima anaknya ke sebuah desa yang sepi di Kabupaten Bekasi itu bukan tanpa alasan. Ia punya cita-cita menjadikan anaknya sebagai penghafal (tahfidz) Alquran.

Keinginan Omsa menjadikan anak-anaknya sebagai penghafal Alquran muncul pada 2011. Saat itu, ia rajin mendengar tausiyah Ustaz Yusuf Mansyur di televisi. Lantas, ia langsung mempraktekkan kebolehannya membaca Alquran yang ia pelajari saat di pondok pesantren dulu kepada anak-anaknya.

"Mulai menghafal alquran satu hari satu ayat dari 2011. Saat anak kedua saya lahir. Pertama kali dapat surat Ar-Rahman waktu itu," ujar dia.

Adapun, Sekolah Alam Prasasti berdiri di atas lahan seluas 3.200 meter persegi. Jumlah siswanya ada 85 orang. Anak-anak yang sekolah di sana punya latar belakang beragam. Mulai dari yatim piatu, anak yang bermasalah dalam keluarga serta anak-anak yang punya orang tua tidak mampu.

Pada 2019, sudah ada tujuh pelajar di tingkat SMP, satu pelajar SD, dan satu pelajar SMA yang lulus dari sekolah itu.  Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak yang putus sekolah.

Pendirinya, Komarudin Ibnu Nikam (50 tahun) telah malang melintang di dunia organisasi, lembaga swadaya masyarakat (LSM) hingga politik.  Pembangunan sekolah alam ini bermula pada 2016. Saat ia mendirikan lembaga non-profit yakni Yayasan Bangunan Peradaban Mulia.

Yayasan itu bergerak di bidang pendidikan bagi generasi muda Bekasi yang patuh ajaran agama, berbudaya, dan tak melupakan identitas. Proses pembelajaran di sekolah itu dimulai pada 2017. Saat itu, jumlah siswa yang ikut belajar di yayasan itu baru sebanyak 17 orang.

Jenis pembelajaran di awal yayasan itu terbentuk juga masih sebatas pengajian. Tenaga pendidik yang direkrut pun warga desa setempat, mulai dari ustaz, pengurus wilayah dan juga muda-mudi tamatan SMA. Rata-rata pengajar di sana ada untuk mengabdi dan tidak menjadikan mata pencaharian utama.

"Pengajar yang terlibat tidak ada biaya apapun, hanya uang transportasi. Ada sebagian pemuda tamatan SMA yang kami berdayakan untuk mengajar di sini. Sambil dia mengajar, kami fasilitasi untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi," kata Komar.

Jumlah keseluruhan tenaga pengajar sebanyak 12 orang. Suasana belajar pun santai. Para siswa belajar dengan dikelilingi sawah dan kebun warga yang berada di kanan-kirinya.

Salah seorang siswa, Andika (10 tahun), merupakan seorang yatim piatu. Ia diantar pamannya asal Tambun Utara, untuk belajar di Sekolah Alam Prasasti. Dia bercerita, kegiatannya di sekolah itu dimulai sejak subuh. Mereka pergi untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah dan membaca  Alquran.

"Subuh bangun, sholat dan ngaji. Habis itu cerita-cerita sama teman," ujar Andika saat ditemui Republika.

Apabila kegiatan belajar mengajar sudah rampung di siang hari, mereka memboyong kambing domba untuk diberi makan rumput dan daun. Siang harinya, ia mengisi waktu dengan tidur dan bermain di area lapangan sekolah. "Di sini enak banyak teman. Dari mana-mana ada teman. Saya senang di sini," kata dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA