Sunday, 4 Jumadil Akhir 1442 / 17 January 2021

Sunday, 4 Jumadil Akhir 1442 / 17 January 2021

Tren Kepatuhan Masyarakat Terapkan Prokes Menurun

Jumat 04 Dec 2020 05:32 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Esthi Maharani

Daerah-daerah yang menjadi destinasi wisata di Indonesia diminta siap siaga. Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengingatkan hal itu saat memberi keterangan pers perkembangan penanganan Covid-19 yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (27/10).

Daerah-daerah yang menjadi destinasi wisata di Indonesia diminta siap siaga. Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengingatkan hal itu saat memberi keterangan pers perkembangan penanganan Covid-19 yang disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden, Selasa (27/10).

Foto: BPIP
Terjadi penurunan kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyampaikan, terjadinya penurunan kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan. Hal ini berdasarkan pemantauan Satuan Tugas terhadap kedisiplinan masyarakat dalam mematuhi prokes sejak 18 November.

Wiku mengatakan, fluktuasi penurunan disiplin prokes pun terjadi pada pekan keempat November.

“Kemudian sangat disayangkan bahwa trennya terus memperlihatkan penurunan terkait dengan kepatuhan individu dalam memakai masker serta menjaga jarak dan menghindari kerumunan,” ujar Wiku saat konferensi pers.

Penurunan kepatuhan masyarakat terhadap prokes ini terjadi saat periode libur panjang pada 28 Oktober sampai 1 November.  Tren penurunan ini terus berlanjut hingga 27 November di mana persentase kepatuhan penggunaan masker sebesar 59,32 persen. Sedangkan persentase kepatuhan dalam menjaga jarak dan tidak berkerumun sebesar 43,46 persen.

“Dapat kita simpulkan bahwa liburan panjang merupakan momentum pemicu utama penurunan kepatuhan disiplin protokol kesehatan dan kepatuhan tersebut semakin menurun,” jelasnya.

Wiku mengatakan, jika masyarakat semakin lengah menjalankan prokes, maka akan meningkatkan penularan. Dan apabila dilakukan testing dan tracing, maka kasus positif akan meningkat.

“Jika terus seperti ini, maka sebanyak apapun fasilitas kesehatan yang tersedia tidak akan mampu menampung lonjakan yang terjadi,” tambahnya.

Lebih lanjut, Satgas mencatat dari 512 kabupaten/kota di Indonesia, hanya kurang dari 9 persen daerah yang patuh dalam memakai masker. Dan yang lebih memprihatinkan, kurang dari 4 persen kabupaten/kota yang patuh dalam menjaga jarak.

Berdasarkan studi yang dilakukan Yilmazkuday pada 2020, untuk menurunkan angka kasus positif dan kematian maka minimal 75 persen populasi harus patuh menggunakan masker. Sayangnya, angka tersebut masih belum tercapai di Indonesia dan penambahan kasus terus meningkat.

Bahkan pada Kamis (3/12), penambahan kasus positif harian mencetak rekor tertingginya yakni mencapai 8.369 kasus. Dalam beberapa hari terakhir pun, Satgas mencatat rekor penambahan kasus terus terjadi.

“Ini adalah angka yang sangat besar dan tidak bisa ditolerir,” ujar dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA