Saturday, 3 Jumadil Akhir 1442 / 16 January 2021

Saturday, 3 Jumadil Akhir 1442 / 16 January 2021

Mengapa Pasien Jantung Jangan Sampai Terinfeksi Covid-19

Jumat 04 Dec 2020 00:28 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Indira Rezkisari

Seorang petugas kesehatan mengenakan alat pelindung lengkap saat memeriksa detak jantung pasien. Penderita jantung yang terpapar Covid-19  perawatannya sulit dan angka kematiannya tinggi.

Seorang petugas kesehatan mengenakan alat pelindung lengkap saat memeriksa detak jantung pasien. Penderita jantung yang terpapar Covid-19 perawatannya sulit dan angka kematiannya tinggi.

Foto: AP Photo / Eduardo Verdugo
Covid-19 mempercepat proses gagal jantung akut.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jantung menjadi salah satu organ tubuh yang vital dan kemudian saat mengalami gangguan dan menjadi pasien kardiovaskular maka harus menjaga organnya, termasuk infeksi virus corona SARS-CoV2 (Covid-19). Dampak fatal bisa terjadi ke pasien kardiovaskular yang terinfeksi Covid-19.

Ahli Jantung di Rumah Sakit (RS) Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Isman Firdaus menjelaskan, sebenarnya gangguan jantung lebih berbahaya dibandingkan penularan Covid-19. "Karena (ketika terinfeksi Covid-19) mempercepat proses gagal jantung akut. Makanya kami khawatir, pasien jantung jangan sampai terpapar Covid-19," ujarnya saat konferensi virtual BNPB Bertema Mewaspadai Efek Jangka Panjang Covid-19, Kamis (3/12).

Oleh karena itu, Isman meminta orang yang mengalami gangguan jantung, mulai dari yang memasang ring, operasi by pass, kemudian yang kontrol ke dokter jantung dan konsumsi obat-obatan rutin harus terus menjaga salah satu organ tubuh vital ini. Ia keminta penderita jantung benar-benar memakai masker yang baik, menjaga jarak, dan mencegah kerumunan.

"Karena kalau sampai terpapar Covid-19, maka perawatannya sulit dan angka kematiannya tinggi. Apalagi obat Covid-19 masih susah," katanya.

Ia menambahkan, pasien jantung yang terinfeksi Covid-19 maka kemungkinan fungsi jantung sebelah kanan menurun dan bisa jadi mengalami penurunan kadar oksigen dalam darah (hypoxia). Ini tentu menyebabkan potensi terjadinya tekanan pembuluh darah.

Padahal, dia menambahkan, infeksi apapun, tidak hanya Covid-19 apabila memiliki penyakit penyerta kardiovaskular bisa mencetuskan penyakit akut jantung. Terkait kemungkinan penderita gangguan jantung yang selamat dari infeksi virus ini bisa mengalami gejala sisa (long Covid-19), Isman mengakui belum ada laporan mengenai long covid-19 yang terjadi pada orang dengan penyakit jantung.

"Yang jelas ketika penderita jantung yang bertahan (survive) dari Covid-19 maka harus tetap mengonsumsi obat jantung. Jadi, jantungnya dipantau," katanya.

Ia menambahkan, kalau dalam kurun waktu sebulan ternyata penyintas Covid-19 penderita jantung masih merasakan gejala sisa seperti kelelahan maka perlu dievaluasi ke dokter. Kemudian USG jantung bisa dilakukan.

"Ini untuk memastikan fungsi pompa jantung," katanya.  




BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA