Tuesday, 13 Jumadil Akhir 1442 / 26 January 2021

Tuesday, 13 Jumadil Akhir 1442 / 26 January 2021

Menkop: 10,2 Juta UMKM Sudah Masuk Ekosistem Digital

Kamis 03 Dec 2020 18:37 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Nidia Zuraya

Pedagang gitar rumahan memotret barang dagangannya untuk dijual secara daring di Ciledug, Tangerang, Banten, Senin (20/7/2020). Saat ini sudah sekitar 10,2 juta atau 16 persen pelaku UMKM yang memanfaatkan teknologi digital

Pedagang gitar rumahan memotret barang dagangannya untuk dijual secara daring di Ciledug, Tangerang, Banten, Senin (20/7/2020). Saat ini sudah sekitar 10,2 juta atau 16 persen pelaku UMKM yang memanfaatkan teknologi digital

Foto: ANTARA/Rivan Awal Lingga
Jumlah tersebut mencapai 16 persen pelaku UMKM di Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) teten Masduki menyatakan, jumlah Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang masuk ekosistem digital terus bertambah. Saat ini sudah sekitar 10,2 juta atau 16 persen pelaku UMKM yang memanfaatkan teknologi digital. 

"Ini merupakan percepatan, waktu di awal tahun baru 13 persen pelaku usaha masuk digital. Saya kira, transformasi UMKM go digital perlu didorong," ujar Teten dalam webinar yang digelar KoinWorks, Kamis (3/12).

Ia memaparkan, ada tiga isu utama dalam go digital. Pertama kapasitas produksi, kedua kualitas produksi, dan ketiga literasi digital. 

Baca Juga

"Saya kira ketiganya perlu di-address. Salah satunya lewat bermitra dengan swasta," kata dia. 

Teten menuturkan, transformasi ekonomi digital saat ini menjadi keniscayaan. Sebab, hadirnya pandemi Covid-19 pada tahun ini sangat berdampak ke semua lini usaha termasuk UMKM yang berkontribusi sekitar 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. 

"Saya kira tidak sedikit UMKM yang bisa bertahan dan tumbuh. Terutama yang terhubung ke ekosistem digital," ujarnya. 

Dirinya menuturkan, McKinsey mencantat, penjualan UMKM naik 26 persen pada kuartal II 2020. "Potensi ekonomi digital Indonesia pada 2025 pun diperkirakan mencapai Rp 1.800 triliunan. Saya kira ini pasar cukup besar, jangan sampai diambil produk luar," tegas Teten. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA