Tuesday, 13 Jumadil Akhir 1442 / 26 January 2021

Tuesday, 13 Jumadil Akhir 1442 / 26 January 2021

Ibu Hamil dan Anak-Anak di Inggris tak Dapat Vaksin Covid-19

Jumat 04 Dec 2020 06:07 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Reiny Dwinanda

Ibu hamil (Ilustrasi). Ibu hamil dan menyusui belum diikutsertakan dalam uji coba vaksin unggulan dari Pfizer, Moderna, atau University of Oxford.

Ibu hamil (Ilustrasi). Ibu hamil dan menyusui belum diikutsertakan dalam uji coba vaksin unggulan dari Pfizer, Moderna, atau University of Oxford.

Foto: Pixabay
Data mengenai dampak vaksin Covid-19 untuk anak dan ibu hamil masih sangat sedikit.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Ibu hamil dan anak-anak di Inggris tidak akan mendapat vaksin Covid-19. Alasannya, karena Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) belum mengetahui secara pasti efek samping vaksin terhadap kelompok usia tersebut.

Para pakar mengatakan, data mengenai dampak vaksin untuk anak-anak dan ibu mengandung masih sangat sedikit. Sekretaris Negara untuk Kesehatan dan Layanan Sosial Inggris, Matt Hancock, telah mengonfirmasi hal tersebut.

Komite Bersama Vaksinasi dan Imunisasi (JCVI) mengatakan, kurangnya bukti membuat mereka merekomendasikan pencegahan. Mereka tidak menyarankan vaksinasi Covid-19 pada ibu hamil atau perempuan yang merencanakan kehamilan.

Saat ini, data vaksinasi pada remaja dan anak berusia lebih muda juga sangat terbatas. Komite menganjurkan vaksin sebaiknya hanya diberikan kepada anak berisiko tinggi, seperti yang mengidap cacat saraf parah atau membutuhkan perawatan segera.

Inggris menjadi negara pertama yang menyetujui penggunaan vaksin Pfizer/BioNTech. Akan tetapi, ibu hamil dan menyusui belum diikutsertakan dalam uji coba vaksin unggulan dari Pfizer, Moderna, atau University of Oxford.

Juru bicara Pfizer, Jerica Pitts, mengatakan, perusahaan sedang melakukan penelitian awal untuk melihat bagaimana vaksin memengaruhi kehamilan. Akan tetapi, uji coba tersebut belum dilakukan terhadap manusia.

Pada Maret silam, para calon ibu di Inggris diimbau untuk lebih berhati-hati sebagai tindakan pencegahan. Mereka dikhawatirkan mengalami gejala Covid-19 yang lebih buruk karena perempuan hamil berisiko lebih besar tertular virus seperti flu.

Akan tetapi, situs web NHS kemudian mengulas bahwa hal itu belum tentu berlaku untuk infeksi virus corona. Mengingat Covid-19 adalah virus baru, lebih aman untuk memasukkan perempuan hamil dalam kelompok berisiko sedang.

Selama pandemi, para ilmuwan berusaha meyakinkan bahwa para perempuan hamil tidak berpotensi lebih parah dengan virus corona tipe baru, SARS-CoV-2, yang menyebabkan Covid-19. Fakta bahwa perempuan mengandung biasanya berusia di bawah 40 tahun juga menguntungkan mereka.

Menurut prediksi peneliti, sebagian besar perempuan hamil yang mengidap Covid-19 hanya mengalami gejala ringan. Kondisi lebih parah yang membutuhkan perawatan di rumah sakit, seperti pneumonia, lebih umum terjadi pada pria dan lansia.

Studi yang digagas oleh University of Oxford juga menemukan risiko berbeda pada perempuan hamil beretnis Afrika-Amerika, Asia, dan etnis minoritas lain. Mereka empat kali lebih mungkin dirawat di rumah sakit karena infeksi.

photo
Prioritas Sasaran Vaksin Covid-19 di Indonesia - (Infografis Republika.co.id)

Usai Inggris memberikan persetujuan terhadap vaksin, 800 ribu orang akan mendapat suntikan pada gelombang pertama pekan depan.
Deretan penerima pertama adalah penghuni panti jompo juga petugas kesehatan dan perawat NHS.

Pasien berusia 16 tahun hingga 64 tahun dengan kondisi kesehatan yang membuat mereka berisiko tinggi berada di urutan keenam untuk vaksin. Setelah itu, barulah vaksin diberikan kepada mereka yang berusia di atas 60-an.

Berlanjut dengan kelompok usia di atas 55 tahun, barulah seluruh populasi dapat divaksinasi. JCVI menyampaikan, kelompok paling penting adalah lansia di atas usia 65 tahun karena mereka memiliki risiko kematian lebih tinggi.

"Nasihat Komite, kelompok ini harus menjadi prioritas tertinggi. Vaksinasi terhadap penduduk dan staf kesehatan, kami anggap sebagai strategi efisien dalam program vaksinasi massal dengan potensi dampak terbesar," tulis laporan JCVI, dikutip dari laman The Sun, Kamis (3/12).

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA