Monday, 12 Jumadil Akhir 1442 / 25 January 2021

Monday, 12 Jumadil Akhir 1442 / 25 January 2021

Mualaf Perlu Didampingi Mentor yang Tepat

Kamis 03 Dec 2020 12:54 WIB

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Esthi Maharani

mualaf (ilustrasi)

mualaf (ilustrasi)

Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang
Mualaf harus mencari mentor yang baik dan membuat belajar tentang Islam mudah baginya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Saat seseorang menjadi Muslim baru, mereka akan belajar banyak hal terkait ajaran Islam. Mereka tidak bisa mempelajari seorang diri karena nantinya akan membingungkan. Oleh karena itu, seorang mualaf perlu didampingi mentor yang tepat.

Beberapa Muslim baru mengabaikan langkah ini. Mereka pikir tidak perlu ada pembimbing karena mereka sudah tahu bagaimana menjalankan Islam dan mengamalkannya dengan benar. Sebelum memutuskan untuk menjadi Muslim, mereka menghabiskan banyak waktu untuk mencari dan meneliti segala sesuatu yang berhubungan dengan Islam.

Namun, menjadi seorang Muslim adalah perjalanan seumur hidup dan masih ada lebih banyak ajaran Islam yang ditelusuri dan dipelajari.

Bimbingan dalam sunnah Nabi Muhammad SAW
Rasulullah adalah mentor terbaik. Dia biasa duduk melingkar dengan teman-temannya, dia akan duduk di tingkat yang sama dengan mereka dan mengajar mereka, lalu menyuruh mereka pergi dan mengajarkan Islam kepada anak-anak dan keluarga mereka. Ekspetasi Rasulullah pada teman-temannya tentu berbeda dengan seorang Muslim baru yang mengalami masalah untuk seorang Muslim yang taat.

Pelajaran dari nasihat Nabi Muhammad untuk Mu'adh
Dikutip About Islam, Kamis (3/12), ketika Nabi Muhammad mengirim Mu'adh ibn Jabal ke Yaman, dia mengatakan kepadanya bagaimana cara mengajarkan Islam.

1. Ajari mereka syahadat untuk mencintai Allah dan utusan-Nya. Sebab, jika seorang mualaf belum mempunyai waktu untuk membangun iman dan kedekatan dengan Allah dan Rasulullah, maka dia belum mempunyai waktu untuk membuat hubungan itu antara dirinya dan Allah dan antara dirinya dan Rasulullah. Hubungan ini merupakan tingkat dasar dan bagian pertama dari fondasi menjadi Muslim.

2. Setelah mereka menerima syahadat, kemudian ajari mereka sholat dan bagaimana berhubungan dengan Allah Yang Maha Kuasa.

3. Ajari mereka zakat. Dia menyuruh Muslim untuk bersikap lembut. Konteks hadits yang sebenarnya adalah saat Rasulullah berbicara tentang cara memperlakukan, mengajar, dan bersikap lembut kepada orang-orang yang bersiap untuk memeluk Islam.

Apakah mentor diperlukan?
Muslim baru datang dari suatu perubahan besar. Mereka mungkin harus melepaskan hal-hal yang telah mereka lakukan sepanjang hidup mereka. Sekarang mereka telah berubah sehingga mereka membutuhkan pengetahuan. Pada tahap pertama belajar tentang Islam, mereka mungkin merasa tersesat dan mungkin tidak tahu langkah apa yang harus diambil selanjutnya. Jadi, mereka membutuhkan bantuan dari mentor.

Merasa aneh dan terisolasi
Bagi Muslim baru, sangat umum saat mereka merasa seperti orang asing atau merasa seperti terisolasi walaupun sedang bersama banyak orang. Terasing bukan berarti ada masalah, Allah tidak meninggalkan. Hal itu wajar, tidak apa-apa. Namun, mereka perlu berpaling kepada Allah terlebih dahulu. Isolasi sebentar baik untuk Muslim baru. Allah ingin mereka berpaling kepada-Nya. Bahkan, Rasulullah pun pernah mengisolasi dirinya untuk merenung.

Cari mentor yang tepat
Seorang mualaf harus mencari mentor yang baik dan membuat belajar tentang Islam mudah baginya. Mentor yang tepat adalah orang yang mengikuti sunnah, mengajari dengan lembut dan bertahap, selangkah demi selangkah, dan tidak mendorong keluar dari zona nyaman. Sebab, ini akan terhubung seumur hidup.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA