Saturday, 10 Jumadil Akhir 1442 / 23 January 2021

Saturday, 10 Jumadil Akhir 1442 / 23 January 2021

Prokes Mengendur, Satgas Jatim Kembali Gelar Operasi Yustisi

Rabu 02 Dec 2020 22:52 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Tim pemburu pelanggar protokol kesehatan atau Mobile COVID Hunter mengikuti apel di Alun alun Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (16/9/2020). Tim yang terdiri dari TNI, Polri, Dishub serta Satpol PP tersebut berpatroli menjalankan operasi Yustisi guna memburu dan menegakkkan disiplin para pelanggar protokol kesehatan.

Tim pemburu pelanggar protokol kesehatan atau Mobile COVID Hunter mengikuti apel di Alun alun Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (16/9/2020). Tim yang terdiri dari TNI, Polri, Dishub serta Satpol PP tersebut berpatroli menjalankan operasi Yustisi guna memburu dan menegakkkan disiplin para pelanggar protokol kesehatan.

Foto: Umarul Faruq/ANTARA
Operasi yustisi jadi cara Pemprov Jatim untuk tingkatkan kepatuhan masyarakat

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Tim Satgas Penanganan COVID-19 Provinsi Jawa Timur kembali meningkatkan Operasi Yustisi sebagai upaya preventif agar masyarakat menjalankan kepatuhan terhadap protokol kesehatan untuk mengendalikan kasus penyebaran Virus Corona.

"Kami telah melakukan kordinasi dengan Forkopimda agar operasi ini digelar masif di berbagai daerah. Sebab tampaknya protokol kesehatan di beberapa area sudah agak mengendur, jadi harus dikencangkan lagi demi kebaikan bersama," ujar Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Surabaya, Rabu (2/12).

Menurut dia, langkah tersebut penting dilakukan karena dari data yang ada terdapat tren kenaikan kasus COVID-19 secara Nasional, termasuk Jawa Timur pasca-libur panjang.

Melihat dari pengalaman sebelumnya, maka peningkatan kepatuhan protokol kesehatan mampu membuat 63 persen Kabupaten dan Kota di Jatim berhasil menjadi zona kuning.

Berdasarkan sebaran zonasi dari data nasional per 2 Desember 2020 pukul 16.00 WIB, ada empat daerah di Jatim berstatus zona merah atau berisiko tinggi, yakni Kabupaten Jember, Situbondo, Jombang, dan Kota Batu.

Kemudian, daerah zona oranye (berisiko sedang) sebanyak 32 daerah, dan berkurangnya daerah zona kuning (berisiko rendah) yaitu dua daerah.

Rinciannya, zona oranye yaitu Sidoarjo, Kota Surabaya, Kota Malang, Kota Blitar, Kota Probolinggo, Tulungagung, Lamongan, Bondowoso, Kediri, Gresik, Ngawi, Nganjuk, Sumenep, Trenggalek, Ponorogo, Banyuwangi, Pasuruan, Magetan dan Probolinggo.

Kemudian, Kota Mojokerto, Tuban, Pamekasan, Blitar, Malang, Kota Pasuruan, Kota Kediri, Bojonegoro, Bangkalan, Kota Madiun, Lumajang, Mojokerto, dan Madiun.

Sedangkan, dua kabupaten yang berstatus zona kuning adalah Pacitan serta Sampang.

Data lainnya, berdasarkan sumber data yang sama, situasi positif COVID-19 di Jatim secara kumulatif sebanyak 62.773 kasus.

Rinciannya, pasien dirawat sebanyak 3.106 kasus (4,95 persen), sembuh 55.260 kasus (88,03 persen) dan meninggal dunia 4.468 kasus (7,12 persen).

"Saya minta semuanya untuk kembali meningkatkan kewaspadaan dan disiplin protokol kesehatan, Satgas saya minta untuk bekerja keras kembali dan lebih ekstra," ucap Khofifah.

Sementara itu, terkait informasi adanya rumah sakit yang mulai penuh dan Bed Occupancy Rate (BOR) naik, Pemprov Jatim bergerak cepat dengan mengaktifkan kembali rencana RS Darurat untuk Malang Raya.

Apalagi, kata dia, terjadi kenaikan kasus yang cukup signifikan di Malang Raya, sehingga BOR rumah sakit mencapai 70 persen.

Bed Occupancy Rate (BOR) merupakan salah satu dari empat parameter yang dapat digunakan untuk menggambarkan tingkat hunian rawat inap di suatu rumah sakit.

"Saat ini kami akan fokus untuk membantu relaksasi rumah sakit di Malang Raya dengan mendirikan RS Darurat Lapangan (RSDL). Formatnya akan seperti yang telah ada di RSDL Indrapura Surabaya karena terbukti sangat efektif untuk meringankan beban rumah sakit dengan kematian 0 persen," katanya.

Meskipun Jatim sudah mempersiapkan RS Darurat untuk mengatasi lonjakan kasus, orang nomor satu di Pemprov Jatim itu mengingatkan warganya agar meningkatkan lagi penerapan protokol kesehatan maupun dalam pelaksanaan 3T, yaitu Testing, Tracing dan Treatment.

"Mari ketatkan lagi penerapan protokol kesehatan di Jatim. Saya optimistis bersama warga Jatim bisa melewati pandemi COVID-19 dengan hasil terbaik," tutur Khofifah.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA

 
 
 

TERPOPULER

Kamis , 01 Jan 1970, 07:00 WIB