Wednesday, 7 Jumadil Akhir 1442 / 20 January 2021

Wednesday, 7 Jumadil Akhir 1442 / 20 January 2021

Jangan Sisakan Dendam Marah Anda di Akhirat, Ini Alasannya

Rabu 02 Dec 2020 22:37 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Nashih Nashrullah

Islam mengajarkan agar tak menyisakan dendam di akhirat. Ilustrasi memaafkan

Islam mengajarkan agar tak menyisakan dendam di akhirat. Ilustrasi memaafkan

Foto: Republika/Aditya Pradana Putra
Islam mengajarkan agar tak menyisakan dendam di akhirat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Setiap manusia pasti memiliki kesalahan satu sama lainnya. Namun terkadang ada di antara mereka yang enggan untuk memaafkan kesalahan atau kekeliruan orang lain, bahkan mengeluarkan sumpah akan menuntut pahala atau ganjaran dari kesalahan orang lain itu saat di akhirat kelak.

Untuk membahas hal itu, pendiri Pusat Studi Alquran (PQS) Jakarta, Prof Muhammad Quraish Shihab, menjelaskan bahwa di antara sifat Allah adalah Muqsith atau dari kata qisth. Banyak yang mengartikannya sebagai adil atau pemberi keadilan. 

Menurut pakar tafsir Alquran itu, kata qisth berbeda dengan adil. Sebab, adil adalah seseorang menuntut semua hak dan memberi semua kewajiban.

Baca Juga

Dia menjelaskan, dalam hal sengketa, menjatuhkan sanksi yang wajar pada yang bersalah disebut dengan adil. Misalnya saja pencuri, koruptor yang dijatuhkan sanksi sesuai dengan kesalahannya. Hal demikian, menurut dia, disebut dengan adil.

Namun, dia menjelaskan, dalam hubungan antarmanusia termasuk dalam bisnis atau muamalah yang dituntut bukanlah adil melainkan qisth. Kata yang bermakna kedua belah pihak senang atau win-win solution.

Quraish kembali mencontohkan seorang adik mengambil mainan kakaknya. Dia menjelaskan, semestinya orang tua tidak menerapkan adil dalam hal itu melainkan melakukan qisth. "Mau adil? Hei ini bukan punyamu, kasih kakakmu, menangiskan yang kecil. Lakukan qisth, beri tahu kakaknya, nak kasih saja adikmu itu nanti ayah belikan kamu yang lain yang lebih bagus, dua duanya senang atau tidak?" kata Prof Qu raish Shihab dalam kajian daring di laman Youtube.  

Begitu pun dalam hidup, seorang hamba yang mengalah, memaafkan, melimpahkan, atau menyerahkan kesalahan yang diperbuat orang lain ke pada Allah, maka Allah mempunyai cara melakukan qisth. Sebaliknya orang yang menuntut ganjaran orang lain yang pernah berbuat kesalahan justru dikatakan orang yang rugi atau muflis.

"Orang datang mengadu (tentang perbuatan orang lain padanya). Allah berfirman, coba kamu tengok ke atas. Dia lihat satu pemandangan istana yang indah, orang itu bertanya siapa yang punya. Allah menjawab, yang sanggup membeli. Siapa yang sanggup membeli?

Kata orang itu. Allah menjawab, kamu kalau mau beli bisa. Bagaimana saya beli? Tanya orang itu. Allah menjawab, maafkan saudaramu. Itu qisth, dua-duanya senangkan? Jadi, jangan pernah berkata, saya tuntut di akhirat, Anda rugi," katanya.

Karena itu, dijelaskan dalam Alquran surat Fussilat ayat 34  bahwa tidak sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang baik. 

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.”   

Selain itu, ayat tersebut juga menjelaskan, bila seseorang berbuat baik ter hadap orang yang pernah berbuat salah, lawannya itu akan berubah sikap menjadi sahabat yang begitu dekat.

Quraish Shihab menjelaskan pada dasarnya ketika seseorang menyimpan kebencian, kemarahan pada orang lain, sejatinya orang tersebut juga menyimpan cinta dan perasaan untuk menjalin hubungan yang baik. 

Ketika di balas dengan kebaikan, maka orang yang menyimpan kebencian, kemarahan, permusuhan itu pun akan memunculkan kasih sayang untuk menjalin persahabatan. 

Karena itu, Quraish juga menjelaskan pada dasarnya semakin dekat hubungan seseorang dengan orang lainnya maka akan semakin banyak tuntutan yang muncul. Selain itu, semakin dekat hubungan potensi terjadinya salah paham semakin tinggi.

"Agama menginginkan kita ini hidup harmonis, saling maaf memaafkan. Yang lalu sudahlah. Mari kita bina hubungan yang baik karena kalau tidak kita rugi. Bukan cuma rugi di akhirat, kita rugi tidak dapat teman," kata dia.  

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA