Thursday, 8 Jumadil Akhir 1442 / 21 January 2021

Thursday, 8 Jumadil Akhir 1442 / 21 January 2021

Ruangan di RSUA Surabaya Penuh Akibat Pasien Covid Melonjak

Rabu 02 Dec 2020 20:24 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Warga mengantre untuk melakukan tes corona atau COVID-19 di Poli Khusus Corona Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA), Surabaya, Jawa Timur.

Warga mengantre untuk melakukan tes corona atau COVID-19 di Poli Khusus Corona Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA), Surabaya, Jawa Timur.

Foto: ANTARA FOTO/Moch Asim
Petugas tangani 51 pasien dari kapasitas seharusnya 40 tempat tidur isolasi.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Ruangan untuk menangani pasien positif Covid-19 di Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) yang dimiliki Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA) Surabaya penuh akibat meningkatnya pasien Corona selama beberapa hari ini. Ada penambahan pasien sebanyak lima persen

"Saat ini kami menangani sebanyak 51 pasien Covid-19 dari jumlah 40 tempat tidur isolasi yang ada," ujar Tim Satgas Corona RSUA, dr Alfian Nur Rosyid SpP dikonfirmasi di Surabaya, Rabu.

Alfian mengatakan, akibat penuhnya ruangan di RSKI, sejumlah pasien baru sementara terpaksa dirawat di buffer Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan dormitory.

Meski ruangan untuk merawat pasien Covid-19 penuh, ia memastikan layanan bagi pasien corona akan tetap berjalan dan tidak ada rencana menutup. "Alhamdulillah masih mencukupi sehingga kami tidak ada rencana untuk menutup layanan bagi pasien Covid-19," ucapnya.

Alfian memprediksi pasien baru Covid-19 di RSUA akan terus bertambah 10 hingga 15 persen seiring adanya pelaksanaan Pilkada Serentak 2020 dan libur akhir tahun.

Mengantisipasi hal tersebut, pihak RSUA intensif mengedukasi masyarakat melalui webinar agar mematuhi protokol kesehatan pencegahan Covid-19."Kami menyiapkan IGD RSKI sebagai ruang buffer untuk pasien baru Covid-19. Insya Allah ruangan tetap tersedia meski pasien baru Covid-19 meningkat," kata Alfian.

Dia mengaku tak terlalu mengkhawatirkan ketersediaan ruangan bagi pasien baru Covid-19, tapi justru yang dikhawatirkan adalah jumlah sumber daya manusia (SDM) relawan COVID-19 karena sebelumnya sudah ditarik pemerintah.

"Untuk ruangan tersedia, yang kurang adalah SDM-nya karena bantuan relawan COVID-19 sudah ditarik dari pemerintah. Harapannya, pemerintah membuka perekrutan lagi untuk relawan," katanya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA