Wednesday, 7 Jumadil Akhir 1442 / 20 January 2021

Wednesday, 7 Jumadil Akhir 1442 / 20 January 2021

Terungkap, Ada Perubahan Pola Pengeluaran Selama Pandemi

Rabu 02 Dec 2020 19:00 WIB

Red: Gilang Akbar Prambadi

Webinar bertajuk Dunia Pasca Covid Ada Apa dengan 2021, Rabu (2/12).

Webinar bertajuk Dunia Pasca Covid Ada Apa dengan 2021, Rabu (2/12).

Foto: Dok. Man
Kebijakan pemerintah, sebaiknya difokuskan untuk dua kelompok terdampak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kelompok dengan pendapatan rendah berbelanja disebut lebih banyak selama pandemi, dengan dominasi belanja berupa pangan. Menurut ekonom Muhamad Chatib Basri ada perubahan pola pengeluaran selama pandemi. 

“Yang belanja itu kelompok bawah, yang kaya tidak belanja, kenapa karena dia mengurangi konsumsi non-ensesialnya,” kata Chatib dalam webinar bertajuk Dunia Pasca Covid Ada Apa dengan 2021, Rabu (2/12).  

Komisaris Utama Bank Mandiri ini mengatakan, fakta tersebut terungkap lewat data Office of Chief Economist Bank Mandiri. Pengeluaran kelompok kaya turun ke angka 69,7 persen dari posisi normal 100 persen dan kelompok menengah mengurangi belanja hingga di angka 72,4 persen. Sedangkan kelompok miskin meski turun, pengeluaran yang didominasi makanan masih  berada di angka 84,2 persen. 

Dalam data Tim Ekonomi Bank Mandiri tersebut dipaparkan kelompok dengan pendapatan tetap, yaitu orang yang mendapat gaji, hampir tidak terdampak pandemi.  

“Tetapi kalau kita melihat mereka yang berada di sektor informal, income-nya 70 persen dari kondisi normal, berarti covid ini membuat pendapatannya turun sekitar 30 persen, dan dunia usaha atau UMKM 15 persen lebih rendah,” kata Chatib. 

Menurut dia, oleh karena itu, kebijakan pemerintah, sebaiknya difokuskan untuk dua kelompok terdampak dan menjaga kelompok miskin agar tetap bisa berbelanja makanan. Selain itu perlu mendorong kelompok menengah dan kaya mulai berbelanja kembali.

Chatib juga melihat sejauh ini pengeluaran negara untuk bantuan sosial cukup efektif mendongkrak perekonomian.  “Itu realisasinya memang sudah 82 persen dari total 100 persen, jadi yang paling efektif memang adalah realisasi budget untuk bantuan sosial, BLT, PKH, sembako relatif di bawah, tapi transfer BLT sangat efektif,” kata Chatib. Kebijakan ini tersebut telah membuat konsumsi yang sempat minus 5,5 persen menjadi minus 4 persen. 

Chatib menambahkan, pertumbunan ekonomi kuartal keempat 2020 diperkirakan mendekati nol, setelah kontraksi pada kuartal kedua dan ketiga. “Pertumbuhan positif kemungkinan mulai kuartal pertama 2021, jadi akan ada perbaikan, tetapi polanya memang agak relatif lambat,” jelas Chatib.  Sedangkan investasi kemungkinan masih akan turun, yang saat ini yang didorong masih sektor permintaan. Jika permintaan naik akan berdampak pada terangkatnya investasi. “Kalau permintaan sudah ada, investasi akan bertambah,” katanya. 

Founder Ancora Group Gita Wirjawan sepakat, bahwa menjaga permintaan menjadi kunci untuk menjaga ekonomi Indonesia saat ini. “Karena 55-60 persen dari porsi ekonomi kita terkait dengan konsumsi domestik, jadinya retail itu nggak lepas dari pendekatan-pendekatan di mana kita harus menempatkan dana atau uang atau daya beli di setiap anggota masyarakat luas di Indonesia” kata Gita. 

CEO HIJUP(dot)com Diajeng Lestari. HIJUP adalah platform yang memghimpun para desainer busana muslim  untuk berkolaborasi dalam pemasaran dan promosi. Diajeng mengakui di masa pandemi konsumen lebih memilih produk yang lebih murah untuk barang yang non-ensensial seperti fesyen. Sebab, masyarakat akan lebih mengutamakan berbelanja kebutuhan pokok. Meski demikian, kata Diajeng berkat bantuan kesiapan digital, platform HIJUP bisa bertahan.

“Bisa dibilang ketika pandemi kita sudah siap, karena digital platformnya sudah ada, social media, penguatan organic-nya sudah sudah kita bangun sepanjang sembilan tahun kemarin,” tambahnya. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA