Sunday, 11 Jumadil Akhir 1442 / 24 January 2021

Sunday, 11 Jumadil Akhir 1442 / 24 January 2021

In Picture: Sindrom Mata Biru Warga Kabupaten Tanah Datar

Selasa 01 Dec 2020 20:47 WIB

Rep: Iggoy El Fitra/ Red: Yogi Ardhi

Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
Sindrom Waardenburg memiliki mata biru dan biasanya disertai gangguan pendengaran.

REPUBLIKA.CO.ID, TANAH DATAR -- Bermata biru, biasanya didapatkan dari keturunan ras caucasian, ras manusia dengan warna kulit putih, rambut pirang. Di Indonesia sendiri, tidak ada suku asli yang memiliki mata biru.

Namun di Sumatera Barat, sejumlah orang dari suku Minangkabau  memiliki mata biru yang merupakan turunan dari keluarga mereka.

Mereka adalah orang-orang yang memiliki sindrom Waardenburg, sindrom langka. Sindrom ini biasanya disertai dengan gangguan pendengaran, perubahan warna mata, kulit, rambut, dan bentuk wajah.

Orang dengan kondisi ini biasanya memiliki iris mata berwarna biru atau berbeda warna (Heterokromia iridium), seperti satu biru dan satu hitam atau coklat. 

Nama sindrom ini diambil dari nama D.J. Waardenburg, dokter mata asal Belanda yang pertama kali mengidentifikasinnya pada tahun 1951.

Dokter Alana Biggers, lulusan Universitas Illinois Chicago, Amerika Serikat mengatakan, Sindrom Waardenburg adalah kondisi genetik langka, yang hanya diderita oleh 1 dari 40.000 orang di dunia. 

Orang dengan sindrom ini biasanya mengalami gangguan pendengaran di salah satu maupun di kedua telinganya. Selain itu mereka juga tidak mampu melihat cahaya yang sangat terang, tapi bisa melihat benda meskipun dalam kondisi gelap.

Sejumlah warga di Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat memiliki sindrom ini. Ada yang mengalami gangguan pendengaran sejak lahir sementara lainnya dianugerahi pendengaran normal.

 

 

Sumber : Antara Foto

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA