Tuesday, 6 Jumadil Akhir 1442 / 19 January 2021

Tuesday, 6 Jumadil Akhir 1442 / 19 January 2021

Biden dan Sekjen PBB Bahas Kemitraan Tangani Covid-19

Selasa 01 Dec 2020 15:10 WIB

Rep: Antara/ Red: Christiyaningsih

 Presiden terpilih Joe Biden berbicara selama pertemuan di teater The Queen Senin, 23 November 2020, di Wilmington, Del.

Presiden terpilih Joe Biden berbicara selama pertemuan di teater The Queen Senin, 23 November 2020, di Wilmington, Del.

Foto: AP/Carolyn Kaster
Joe Biden pada Senin berbicara dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK - Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Joe Biden pada Senin berbicara dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres. Mereka membahas perlunya "kemitraan yang diperkuat" untuk menangani pandemi Covid-19 dan perubahan iklim. Demikian kata tim transisi Biden.

Pandemi Covid-19 dan perubahan iklim merupakan dua area di mana Presiden Donald Trump menghindari pendekatan multilateral. Trump menyebut perubahan iklim sebagai "tipuan" dan pada 2017 menarik Amerika Serikat keluar dari kesepakatan global untuk mengatasi perubahan iklim, suatu keputusan yang mulai berlaku pada 4 November.

Joe Biden telah berjanji untuk AS bergabung kembali dengan perjanjian tentang penanganan perubahan iklim tersebut, yang telah disepakati pada 2015. Trump juga memotong pendanaan ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan juga mengumumkan rencana Amerika Serikat untuk menarik diri dari badan global tersebut. Keputusan itu akan berlaku pada Juli tahun depan.

Trump menuduh WHO menjadi boneka China di tengah pandemi virus corona. Namun, Biden mengatakan dia akan membatalkan keputusan Trump yang mengeluarkan AS dari WHO.

"Biden dan Guterres juga membahas upaya untuk menangani kebutuhan kemanusiaan; memajukan pembangunan berkelanjutan; menegakkan perdamaian dan keamanan dan menyelesaikan konflik; dan mempromosikan demokrasi dan hak asasi manusia," kata tim transisi Biden dalam sebuah pernyataan.

Biden mengungkapkan keprihatinan yang mendalam kepada Guterres tentang meningkatnya kekerasan di Ethiopia dan risiko yang ditimbulkan kepada warga sipil. Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed memuji pasukannya pada Senin karena mengusir gerakan utara, tetapi pemimpin pasukan Tigrayan mengatakan mereka masih melawan di tengah kekhawatiran konflik gerilya yang berlarut-larut.

Perang hampir sebulan di Ethiopia telah menewaskan ratusan dan mungkin ribuan orang. Kondisi ini membuat warga mengungsi ke Sudan, menjerat Eritrea, dan memicu persaingan di antara berbagai kelompok etnis Ethiopia.

Guterres berbicara dengan Abiy pada Ahad untuk menyerukan penghormatan penuh terhadap hak asasi manusia dan akses bantuan kemanusiaan, kata juru bicara PBB Stephane Dujarric.

"Sekretaris Jenderal (Guterres) juga mengatakan bahwa Ethiopia membutuhkan rekonsiliasi sejati, tanpa diskriminasi ... di mana setiap komunitas harus merasa dihormati dan menjadi bagian dari Ethiopia," kata Dujarric kepada wartawan, Senin.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA