Thursday, 20 Rajab 1442 / 04 March 2021

Thursday, 20 Rajab 1442 / 04 March 2021

AS Tambah Empat Perusahaan China ke Daftar Hitam Investasi

Senin 30 Nov 2020 13:45 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Nidia Zuraya

Investasi (ilustrasi). Pemerintah AS memasukkan empat perusahaan China ke dalam daftar hitam investasi.

Investasi (ilustrasi). Pemerintah AS memasukkan empat perusahaan China ke dalam daftar hitam investasi.

Foto: Reuters/Leonhard Foeger
Sebelumnya, pemerintahan Trump membatasi kegiatan perdagangan 89 perusahaan China.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Pemerintahan Presiden AS Donald Trump siap menambahkan daftar hitam investasi. Perusahaan yang ditargetkan di antaranya, pembuat chip terkemuka asal China Semiconductor Manufacturing International Corp (SMIC) dan produsen minyak serta gas lepas pantai China National Offshore Oil Corp (CNOOC).

Menurut sebuah dokumen dan sumber, dua perusahaan tersebut diduga perusahaan militer China. Amerika Serikat (AS) akan membatasi akses mereka ke investor AS yang berpotensi meningkatkan ketegangan dengan Beijing beberapa pekan sebelum presiden terpilih Joe Biden resmi menjabat.

Pada awal bulan ini, Reuters melaporkan, Departemen Pertahanan (DOD) AS berencana menunjuk kembali empat perusahaan China sebagai korporasi yang dimiliki atau dikendalikan militer China. Secara total, perusahaan China yang terdampak menjadi 35 entitas.

Baca Juga

Seperti dilansir di Reuters, Senin (30/11), perintah eksekutif baru-baru ini yang dikeluarkan oleh Trump akan mencegah investor AS membeli sekuritas dari perusahaan yang terdaftar di daftar hitam pada akhir tahun depan.

Sampai saat ini, masih belum jelas kapan tahapan itu diterbitkan dalam Federal Register. Tetapi, menurut dokumen dan tiga sumber yang dikutip Reuters, beberapa perusahaan yang ada dalam daftar adalah China Construction Technology Co Ltd dan China International Engineering Consulting Corp, selain SMIC dan CNOOC.

SMIC mengatakan, pihaknya terus terlibat secara konstruktif dan terbuka dengan pemerintah AS untuk mengatasi isu tersebut. Ia juga memastikan, produk dan layanannya hanya untuk penggunaan sipil dan komersial.

"Perusahaan tidak memiliki hubungan dengan militer China dan tidak memproduksi untuk pengguna akhir atau penggunaan akhir militer manapun," tegas perusahaan.

Sementara itu, DOD, Kedutaan Besar China di Washington dan CNOOC tidak memberikan komentar.

SMIC, yang sangat bergantung apda peralatan dari pemasok AS, sudah lama ditargetkan pemerintah AS. Pada September, Departemen Perdagangan AS memberi tahu beberapa perusahaan, mereka perlu mendapatkan lisensi sebelum memasok barang dan jasa ke SMIC.

Perintah itu disampaikan setelah pemerintah AS menyimpulkan adanya risiko bahwa peralatan yang dipasok ke SMIC dapat digunakan untuk tujuan militer.

Langkah ini dipandang sebagai upaya untuk memperkuat sikap keras Trump di China dan untuk ‘mendorong’ Biden ke posisi sulit di tengah sentimen bipartisan anti-China di Kongres. Tim kampanye Biden menolak berkomentar.

Daftar itu juga merupakan bagian dari upaya Washington ke pemerintahan Beijing yang dinilai telah meminta perusahaan memanfaatkan teknologi sipil untuk tujuan militer.

Pekan lalu, Reuters melaporkan, pemerintahan Trump hampir mengumumkan 89 kedirgantaraan China dan perusahaan lain yang disebutkan memiliki hubungan militer. Washington berencana membatasi mereka untuk membeli berbagai barang dan teknologi AS.

 

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA