Sunday, 11 Jumadil Akhir 1442 / 24 January 2021

Sunday, 11 Jumadil Akhir 1442 / 24 January 2021

Peneliti Catat Semburan Matahari Terkuat Sejak 3 Tahun

Senin 30 Nov 2020 13:30 WIB

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Dwi Murdaningsih

Matahari

Matahari

Suar atau ledakan matahari diukur sebagai suar M4.4.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Satelit pengamat Matahari mencatat suar matahari paling kuat dalam lebih dari tiga tahun. Ledakan matahari diukur sebagai suar M4.4.

Suar matahari memiliki beberapa katagori. Suar kelas C kecil, suar M berukuran sedang dan suar kelas X utama.  Setiap kelas juga memiliki subkategori dari 1 hingga 9. Suar M9 lebih kuat dari M4.

Suar atau flare bisa berdampak pada banyak hal. Suar kelas-M seperti yang terpantau pada Ahad (29/11) biasanya hanya menimbulkan gangguan terbatas di Bumi.

Astronom, Tony Phillips mengatakan sinar-X dan radiasi sinar ultraviolet (UV) dari suar terionisasi di bagian atas atmosfer Bumi, menghasilkan pemadaman radio gelombang pendek di atas Atlantik Selatan.

"Operator radio mungkin telah memperhatikan efek propagasi aneh pada frekuensi di bawah 20 MHz dengan beberapa transmisi di bawah  10 MHz padam sepenuhnya," katanya dikutip dari forbes, Senin (30/11).

Suar hanyalah bagian dari awal siklus matahari baru (tepatnya Siklus Matahari 25). Siklus ini secara resmi dimulai pada Desember 2019.

"Kami dapat mengharapkan periode peningkatan aktivitas dan bintik matahari yang eksplosif hingga kira-kira pertengahan 2025," kata dia.

Fisikawan Matahari di Pusat Prediksi Cuaca Antariksa NOAA Doug Biesecker mengatakan tidak memperkirakan Siklus Matahari 25 yang sangat aktif. Letusan hebat dari matahari dapat terjadi kapan saja. Badai matahari besar telah menyebabkan pemadaman listrik yang signifikan di Bumi di masa lalu, terutama di Quebec pada tahun 1989.

Dampak langsung suar matahari terkuat yang tercatat adalah "Peristiwa Carrington" tahun 1859. Peristiwa itu merusak peralatan elektronik di  tanah, yang sebagian besar terdiri dari sistem telegraf pada saat itu.

Banyak yang telah memperingatkan bahwa masyarakat digital dan ketergantungan pada komunikasi berbasis satelit sangat rentan terhadap badai matahari yang kuat dan bisa datang kapan saja.

“Bintik matahari tersembunyi yang menghasilkan peristiwa besar ini akan berputar ke sisi Bumi matahari selama satu atau dua hari ke depan. Maka kemampuannya untuk memicu badai geomagnetik akan sangat meningkat," kata dia.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA