Friday, 15 Jumadil Awwal 1444 / 09 December 2022

Australia Marah ke China Gara-Gara Sebar Foto 'Palsu'

Senin 30 Nov 2020 13:12 WIB

Rep: Dwina Agustin / Red: Teguh Firmansyah

 Perdana Menteri Australia Scott Morrison

Perdana Menteri Australia Scott Morrison

Foto: EPA-EFE/LUKAS COCH
Jubir China unggah foto prajurit Afghanistan dengan pisau berdarah di samping anak.

REPUBLIKA.CO.ID, CANBERRA -- Australia menuntut China meminta maaf karena mengunggah gambar 'palsu' di akun Twitter pemerintah. Dalam akun tersebut diperlihatkan foto seorang tentara Australia membunuh seorang anak Afghanistan.

Dalam pidato yang disiarkan televisi, Perdana Menteri, Scott Morrison, mengatakan Beijing harus merasa sangat malu karena berbagi 'citra menjijikkan'. Gambar tersebut merujuk pada dugaan kejahatan perang oleh beberapa tentara Australia.

Baca Juga

Morrison menggambarkan unggahan itu sebagai tindakan sangat menjijikkan, sangat ofensif, sangat keterlaluan. "Pemerintah China seharusnya benar-benar malu dengan unggahan ini," katanya.

Dikutip dari BBC, Australia juga telah meminta Twitter untuk menghapus unggahan tersebut dari platform-nya. Unggahan ini dinilai sebagai disinformasi.

Pemunculan foto tersebut didorong dengan sebuah laporan awal bulan ini yang menemukan bahwa 25 tentara Australia diduga terlibat dalam pembunuhan 39 warga sipil dan tahanan Afghanistan antara 2009 dan 2013. Temuan dari penyelidikan Angkatan Pertahanan Australia (ADF) memicu kecaman luas dan sekarang sedang diselidiki oleh polisi.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Lijian Zhao, kemudian mengunggah gambar palsu yang menggambarkan seorang tentara Australia dengan pisau berdarah di samping seorang anak pada Senin (30/11). Anak itu terlihat menggendong seekor domba.

"Dikejutkan oleh pembunuhan warga sipil Afghanistan & tahanan oleh tentara Australia. Kami sangat mengutuk tindakan seperti itu, dan menyerukan agar mereka bertanggung jawab," ujar keterangan pada foto tersebut.

Australian Broadcasting Corporation melaporkan gambar itu tampaknya mengacu pada rumor yang tidak berdasar bahwa tentara elite Australia menggunakan pisau untuk membunuh dua remaja Afghanistan. Namun, penyelidikan tidak menemukan bukti yang mendukung rumor tersebut.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA