Thursday, 8 Jumadil Akhir 1442 / 21 January 2021

Thursday, 8 Jumadil Akhir 1442 / 21 January 2021

Inggris Kerahkan Pasukan Jaga Kilang Minyak Arab Saudi

Ahad 29 Nov 2020 15:22 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini

Tentara Inggris, ilustrasi

Tentara Inggris, ilustrasi

Foto: telegraph.co.uk
Inggris mengirimkan pasukan ke Arab Saudi secara diam-diam

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Inggris dilaporkan menggelar operasi militer untuk menjaga kilang minyak Arab Saudi pada Februari 2020 lalu, lima bulan usai milisi Houthi di Yaman menyerang dua fasilitas minyak negara Arab Teluk tersebut.

Serangan tersebut berdampak besar pada pasokan minyak global. Maka, diam-diam Inggris mengirimkan 16th Regiment Royal Artillery dari Angkatan Darat untuk menjaga kilang minyak Arab Saudi.

Mengutip juru bicara Kementerian Pertahanan, media Inggris, Independen melaporkan operasi itu bertujuan melindungi fasilitas produksi minyak Arab Saudi dari serangan pesawat tanpa awak.

Baca Juga

"Usai serangan ke kilang produksi minyak Arab Saudi 14 September 2019, kami bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan Arab Saudi dan mitra internasional yang lebih luas untuk mempertimbangkan cara memperkuat pertahanan infrastruktur ekonomi penting dari serangan udara," kata juru bicara tersebut seperti dikutip Sputnik News, Ahad (29/11).

Juru bicara itu tidak menyebutkan persis 'kapan atau berapa jumlah personel yang dilibatkan' dengan alasan hal itu berkaitan dengan 'keamanan operasi'. Tapi mengkonfirmasi kontribusi Inggris dalam mengirimkan 'sistem radar militer canggih' untuk membantu mendeteksi serangan drone.

Menteri Pertahanan James Heappey mengkonfirmasi radar yang dikirimkan adalah Giraffes, radar buatan Swedia. Inggris juga mengirimkan sistem komando dan kontrol pertahanan udara yang dirancang dioperasikan bersama rudal dan senjata jarak pendek dan menengah.

Heappey mengatakan pengerahkan pasukan dan senjata tempur ini 'sepenuhnya bersifat pertahanan'. Ia mengindikasi operasi itu masih berlangsung.

Tidak seperti Amerika Serikat yang pada tahun lalu dengan terbuka mengumumkan pengerahan 1.800 pasukan, satu skuadron pesawat tempur dan sistem pertahanan ke Arab Saudi, Inggris mengerahkan pasukannya dengan dengan diam-diam dan merahasiakan langkah tersebut dari publik dan parlemen.

Operasi militer itu dimulai pada Februari 2020 dan telah berjalan selama beberapa waktu. Di sisi yang lain, London masih melarang penjualan senjata ke Arab Saudi karena keterlibatan mereka di perang Yaman. Kebijakan yang diberlakukan pada 2019 itu sudah cabut pada Juli 2020.

Sebelumnya, Inggris juga menggelar beberapa latihan bersama dengan pasukan Arab Saudi termasuk latihan perang di udara, perang elektronik dan pelatihan perwira. Personel militer Inggris ditempatkan di 15 titik di seluruh penjuru Arab Saudi.  

Pengerahan pasukan AS dan Inggris itu dilakukan setelah Houthi merusak kilang minyak perusahaan minyak milik pemerintah Arab Saudi, Aramco di Abqaiq dan Khurais dengan pesawat tanpa awak. Serangan tersebut menghentikan setengah produksi minyak Arab Saudi untuk sementara waktu.

Tidak ada senjata militer canggih yang berhasil menghentikan serangan pesawat tanpa awak itu. Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut dan berjanji akan kembali menggelar serangan serupa hingga Arab Saudi mundur dari perang Yaman.

Arab Saudi dan sekutu-sekutunya menuduh Iran di balik serangan tersebut. Teheran dengan tegas membantah tuduhan itu. Lembaga think tank Stockholm International Peace Research Institute mencatat pada 2019, Arab Saudi menghabiskan 61,9 miliar dolar AS untuk pertahanan.

Hal itu membuat mereka masuk lima besar negara dengan anggaran pertahanan terbanyak di dunia. Hanya kalah oleh AS, China, India dan Rusia. Walaupun pengeluaran untuk pertahanannya tinggi tapi Arab Saudi sangat tergantung dengan peralatan tempur dan senjata dari luar negeri.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA