Saturday, 3 Jumadil Akhir 1442 / 16 January 2021

Saturday, 3 Jumadil Akhir 1442 / 16 January 2021

Yang Dialami Sarjana Barat Non-Muslim Selama Kaji Islam

Ahad 29 Nov 2020 04:40 WIB

Red: Nashih Nashrullah

 John L Esposito mengkaji Islam meski dia seorang non-Muslim. Ilustrasi Islam

John L Esposito mengkaji Islam meski dia seorang non-Muslim. Ilustrasi Islam

John L Esposito mengkaji Islam meski dia seorang non-Muslim

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA- Profesor John L Esposito dikenal sebagai sosok unik, sebagai warga Amerika keturunan Italia yang menghabiskan waktu di lembaga kepasturan selama satu dekade.

Gelar master teologi disandangnya dari St John University. Dengan gelar doktor bidang Islam, ia pun kini aktif mengajar dan menjadi direktur Prince Alwaleed bin Talal Center for Muslim-Christian Understanding di Georgetown University, Amerika Serikat.  

Kini, pria kelahiran 1940 ini sudah sekitar empat dekade mendalami tentang hubungan internasional dan Islam. Di antara sederet buku karyanya, terdapat The Oxford Encyclopedia of the Modern Islamic World dan yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Who Speaks for Islam? What a Billion Muslims Really Think.

Di antara kegiatannya yang sedemikian padat ini, Esposito menyempatkan merespons permintaan wawancara dengan Republika lewat e-mail yang dikirimkan beberapa jam sebelumnya. “Sepuluh menit saja,” katanya menanggapi sejumlah keberatan panitia karena malam telah larut.

Berikut petikan perbincangan singkat beliau dengan Hiru Muhammad dan Yeyen Rostiyani dari Republika. Wawancara diterbitkan Harian Republika pada 2016 lalu

Ada yang menilai, Islam kini kian berkembang di Barat. Sedangkan di Timur, Islam justru mulai diabaikan. Menurut Anda?

Islam memang berkembang di Barat, tetapi di kalangan Islam sendiri ada kekhawatiran. Banyak orang yang kini tidak lagi ke masjid. Kalau di Timur, di negara-negara yang mayoritas warganya Muslim, Islam sebagai agama juga tetap berkembang. Bahkan, data menunjukkan, banyak Muslim tersebut menyebutkan agama sebagai hal yang penting.

Namun, Islam macam apa dan apakah mereka mempraktikkan nilai-nilai Islam? Nah, itu pertanyaan yang berbeda. Yang jelas, sampai sekarang pun Islam masih termasuk yang berkembang paling pesat. 

Anda bukan Muslim, tetapi begitu banyak berbicara tentang Islam. Apa reaksi paling menarik dari audiens Muslim maupun non-Muslim?

Ya, dulu pada awal-awal sekitar 30-40 tahun silam, orang masih bertanya-tanya. Mengapa saya melakukan semua ini, padahal saya Katolik dan bukan Muslim. Demikian juga Muslim, bertanya hal yang sama. Ada Muslim yang bilang, mungkin saya merendahkan Islam, mungkin saya agen pemerintah, yah semacam itulah.

Bahkan, sampai sekarang juga demikian, mereka masih sering mempertanyakan apa yang saya lakukan (belajar tentang Islam). 

Namun, saya katakan kepada mereka, yang saya katakan tentang Islam adalah hasil pengamatan saya sebagai akademisi. Hal lainnya yang juga menjadi perhatian saya adalah saya percaya pada cara hidup Amerika bahwa setiap orang adalah setara dan setiap orang punya hak dan kewajiban. Dan, ini mejadi tantangan bagi Muslim pada masa depan bahwa saat mereka akan berada dalam posisi berbeda, kemudian ada kelompok lain (menghadapi masalah), mereka akan merespons. 

Saya, misalnya, merespons karena dipengaruhi latar belakang saya sebagai warga Amerika keturunan Italia bertahun-tahun silam, merasakan diskriminasi itu. Dan, ketika saya berhasil, saya harus mengingatnya dan memberikan respons.

Apa Anda pernah merasa jenuh mendalami subjek studi ini (tentang Islam)?

Ya, kadang saya merasa jenuh juga, entah karena saya mendapat kiritik bertubi-tubi atau karena kecewa atas apa yang dikatakan atau dilakukan oleh Muslim. You know, kadang kita sudah bekerja keras, tetapi kemudian semua itu terbentur karena ada Muslim yang mengatakan sesuatu dan hal ini jatuh ke tangan orang-orang yang menyerang Islam. Begitulah! 

Bagaimana agar kami menjadi PR (public relations) yang baik bagi Islam?

Indonesia harus merayakan dirinya saat ini. Hanya dalam waktu singkat, ada situasi yang sangat berbeda, dalam hal demokrasi. Semua perhatian orang tertuju ke sini. Meski memang ada masalah, misalnya terkait keyakinan beragama lain dan pluralisme, Islam di sini sangat beragam. Dan, Islam mainstream di sini mampu mempraktikkan toleransi. Yang lebih khusus lagi adalah keberhasilan di bidang pendidkan, ada sekolah Muhammadiyah, dan pesantren NU. Ini hal yang disadari oleh dunia.  

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA