Tuesday, 6 Jumadil Akhir 1442 / 19 January 2021

Tuesday, 6 Jumadil Akhir 1442 / 19 January 2021

Eks Pejabat Siber AS: Klaim Pilpres Curang adalah Konyol

Sabtu 28 Nov 2020 16:25 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

Presiden Donald Trump

Presiden Donald Trump

Foto: EPA-EFE/Erin Schaff
Krebs dipecat Trump karena mengatakan pemilihan 3 November adalah paling aman.

REPUBLIKA.CO.ID, LOS ANGELES -- Mantan kepala badan keamanan siber Amerika Serikat (AS) yang dipecat Donald Trump sebut klaim kecurangan pemilihan presiden adalah 'konyol'. Chris Krebs dipecat karena mengatakan pemilihan 3 November lalu sebagai pemilihan paling aman dalam sejarah AS.

Mantan direktur Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur Departemen Keamanan Dalam Negeri AS itu diwawancara program 60 Minutes yang ditayangkan stasiun televisi CBS. Dalam kesempatan tersebut ia mengatakan klaim tim kampanye presiden bahwa mesin penghitung suara dimanipulasi negara asing tak miliki dasar.

Salah satu pengacara Trump yang dikeluarkan dari tim legal presiden pekan lalu Sidney Powell mengungkapkan sebuah teori konspirasi dalam konferensi pers yang disiarkan stasiun televisi nasional. Ia mengatakan Presiden Venezuela Hugo Chavez yang sudah meninggal membantu kemenangan presiden terpilih AS Joe Biden.

Powell dan beberapa pendukung Trump lainnya mengatakan mesin suara mengubah suara untuk Trump menjadi untuk Biden. Ia juga mengatakan informasi mengenai pemilihan presiden AS disimpan di sebuah server di Jerman.

"Semua suara di Amerika Serikat dihitung di Amerika Serikat, titik," kata Krebs dalam cuplikan wawancara yang ditayangkan CBS Evening News, Sabtu (28/11).

Wawancaranya selama 60 menit akan disiarkan pada Ahad (29/11). Pada 17 November lalu Trump memecat Krebs setelah ia menyangkal adanya kecurangan dalam pemilihan presiden. "Tidak ada bukti ada mesin yang saya ketahui di manipulasi oleh kekuatan asing," kata Krebs sambil mengatakan tuduhan itu 'klaim yang konyol'.

"Rakyat Amerika harus yakin 100 persen dengan suara mereka," tambahnya.

Biden memenangkan pemilihan presiden dengan 306 suara elektoral, sementara Trump 232 suara elektoral. Mantan wakil presiden Barack Obama itu memenangkan enam juta suara popular dari Trump.

Trump dan pengacaranya terus mengkampanyekan pemilihan presiden 2020 dicurangi dan Trump adalah pemenangan sebenarnya. Pada Kamis (26/11), Trump mengatakan akan meninggalkan Gedung Putih bila Biden memenangkan suara elektoral.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA