Tuesday, 6 Jumadil Akhir 1442 / 19 January 2021

Tuesday, 6 Jumadil Akhir 1442 / 19 January 2021

KH Miftachul Akhyar: Dakwah Itu Merangkul, Bukan Memukul

Jumat 27 Nov 2020 23:27 WIB

Rep: Nur Hasan Murtiaji/ Red: Andi Nur Aminah

Ketua Umum MUI terpilih periode 2020-2025 Miftachul Akhyar saat penutupan Musyawarah Nasional X MUI di Jakarta, Jumat (27/11). Miftachul Akhyar terpilih sebagai ketua umum MUI periode 2020-2025 menggantikan Ma’ruf Amin setelah ditetapkan secara mufakat oleh tim formatur Munas X dan MUI.

Ketua Umum MUI terpilih periode 2020-2025 Miftachul Akhyar saat penutupan Musyawarah Nasional X MUI di Jakarta, Jumat (27/11). Miftachul Akhyar terpilih sebagai ketua umum MUI periode 2020-2025 menggantikan Ma’ruf Amin setelah ditetapkan secara mufakat oleh tim formatur Munas X dan MUI.

Foto: Republika/Thoudy Badai
Posisi ulama yang mengajak pada dakwah sungguh mulia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada masa kekinian, berita palsu atau berita bohong bertebaran dan memunculkan fitnah. Bahkan, seseorang yang mengajak pada kebaikan, bisa masuk perangkap dianggap sebagai penyebar fitnah.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2020-2025, KH Miftachul Akhyar, mengingatkan umat Islam untuk mewaspadai fitnah yang saat ini sudah melekat dalam beragam kehidupan. Dalam kondisi bertebaran banyak fitnah inilah, peran ulama sangat dinantikan. "Bagaimana jati diri ulama yang mendapatkan amanah untuk mengerek bendera Islam secara benar," kata Kiai Miftachul saat memberikan kata sambutan dalam rangkaian acara penutupan Munas ke-10 MUI, di Jakarta, Jumat (27/11).

Kiai Miftach menyampaikan, posisi ulama yang mengajak pada dakwah sungguh mulia. Tidak ada yang lebih tinggi, katanya, selain berdakwah. Namun, ajakan berdakwah ini mesti disampaikan dengan cara kasih sayang. Sebab, ungkap Kiai Miftach, dakwah itu mengajak bukan mengejek.

Baca Juga

"Dakwah itu merangkul bukan memukul, menyayangi bukan menyaingi, mendidik bukan membidik, membina bukan menghina, mencari solusi bukan mencari simpati, membela bukan mencela. Umat sedang menunggu langkah kita," kata Kiai Miftach.

Dia menjelaskan, Imam Syafii pernah memberikan kriteria soal ulama. "Kalau tidak keliru bunyinya demikian, seorang alim adalah ketika semua urusan, perilakunya, sepak terjangnya selalu berkesinambungan dengan agamanya," paparnya.

Apa yang dilakukan seorang ulama mestilah berdasarkan pada aturan hukum, ada penjelasannya, bukan lantaran ikut-ikutan tren. "Semua bukan karena situasi dan kondisi, tapi semua itu ada bayyinahnya," kata Kiai Miftach.

Tugas para penanggung jawab keulamaan, karenanya, untuk memberikan pencerahan kepada umat. Manakala terjadi sesuatu, maka dilakukan klarifikasi apa penyebabnya, bukan memvonis tanpa ada tabayun atau klarifikasi.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA