Tuesday, 24 Zulhijjah 1442 / 03 August 2021

Tuesday, 24 Zulhijjah 1442 / 03 August 2021

3 Pembeda Produk Pertanian Organik dan yang Konvensional

Jumat 27 Nov 2020 22:35 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Petani milenial terus memproduksi sayuran organik.(ilustrasi). berdasarkan sebuah meta-analisis dari 343 studi menyimpulkan bahwa produk organik lebih tinggi dalam antioksidan, lebih rendah dalam residu pestisida, dan lebih rendah pada logam berat daripada konvensional.

Petani milenial terus memproduksi sayuran organik.(ilustrasi). berdasarkan sebuah meta-analisis dari 343 studi menyimpulkan bahwa produk organik lebih tinggi dalam antioksidan, lebih rendah dalam residu pestisida, dan lebih rendah pada logam berat daripada konvensional.

Foto: Kementan
Produk organik lebih tinggi antioksidan, rendah pestisida dan logam berat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada tiga hal penting yang harus diketahui oleh para konsumen terkait produk pertanian yang ada pasar tradisional ataupun supermarket. Sebab, ini berkaitan dengan asal muasal makanan kita berasal serta bagaimana kualitas itu sampai terjaga.

“Yang pertama terkait penggunaan pestisida atau herbisida yang digunakan,” ungkap Aldy Rahmadiansyah Marketing Creative, CROWDE, sebuah startup pertanian Indonesia dengan sistem pembiayaan peer-to-peer (P2P) kepada Republika, Kamis (26/11).

Hal ini menjadi penting untuk diketahui karena berdasarkan sebuah meta-analisis dari 343 studi menyimpulkan bahwa produk organik lebih tinggi dalam antioksidan, lebih rendah dalam residu pestisida, dan lebih rendah pada logam berat daripada konvensional. 

“Jadi kita harus membeli buah dan sayuran bebas pestisida adalah hal mendasar untuk memulai,” katanya.

Yang kedua, lanjut dia, terkait tindakan pengendalian hama apa yang digunakan. Sebaiknya kita harus mengetahui bagaimana petani menyemprot sepanjang tahun atau di awal musim, atau hanya sesuai kebutuhan. 

Sebab, katanya, beberapa petani mungkin tidak menggunakan pestisida secara teratur, tetapi hanya dalam keadaan khusus ketika ada investasi atau mungkin di awal musim tanam.

“Pengendalian hama metode untuk mengatasinya berbeda. Ada yang memilih varietas tanaman tertentu yang lebih tahan hama atau merotasi tanaman dan memiliki hewan lain di pertanian yang menangani hama,” jelasnya.

Dan yang terakhir atau ketiga adalah jenis tanah yang digunakan. Menurutnya, Buah dan sayuran mendapatkan nutrisi dari tanah - dan itu berarti buah atau sayuran hanya bergizi seperti tanah tempat ia ditanam. 

Tanah yang subur adalah ekosistem sendiri, dengan mikroorganisme dan organisme yang bekerja sama untuk memecah dan menciptakan materi yang kaya nutrisi. Tanah juga berfungsi dalam ekosistem pertanian yang lebih besar, termasuk hewan yang menyuburkan, burung di daerah tersebut, air yang digunakan, sinar matahari, dan banyak lagi. 

“Seorang petani yang baik akan memahami lingkungan simbiosis ini dan bekerja untuk menciptakan tanah yang bergizi. Pestisida, penanaman dan pengolahan tanah, semuanya mempengaruhi kualitas tanah,” pungkasnya.

Disisi lain ia menjelaskan bahwa menurut penelitian kandungan vitamin dan mineral produk telah menurun dalam beberapa dekade terakhir. Untuk itu, masalah besar lainnya dengan tanah adalah erosi tanah karena praktik pertanian kimiawi. Tanah lapisan atas yang subur membutuhkan waktu untuk berkembang, tetapi kebanyakan tanaman tidak diberi kesempatan itu. 

Para ilmuwan memperkirakan jika degradasi tanah terus berlanjut dengan kecepatan saat ini, kita hanya akan memiliki sisa 60 tahun pertanian. Mengerikan, bukan? Tapi syukurlah, ada petani yang memprioritaskan keutuhan tanahnya dan memastikan mereka menciptakan lingkungan pertanian yang mendukung generasi mendatang.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA