Saturday, 3 Jumadil Akhir 1442 / 16 January 2021

Saturday, 3 Jumadil Akhir 1442 / 16 January 2021

Batasan Senda Gurau dalam Islam

Sabtu 28 Nov 2020 05:21 WIB

Rep: Dea Alvi Soraya/ Red: Muhammad Hafil

Batasan Senda Gurau dalam Islam . Foto: Ikon Tertawa (ilustrasi)

Batasan Senda Gurau dalam Islam . Foto: Ikon Tertawa (ilustrasi)

Senda gurau dalam Islam memiliki batasan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam kitab Al-Mirah fi Al-Mizah karya Badruddin Abul Barakat Muhammad Al-Ghizzi disebutkan, “dianjurkan agar bercanda diantara pada saudara-saudara dan teman, karena itu menghibur hari dan mempermudah tujuan. Dengan syarat tidak melontarkan suatu tuduhan, tidak menjatuhkan wibawa atau mengurangi kehormatan seseorang, tidak keji sehingga menyebabkan permusuhan dan dengki.”

“Canda itu dicela apabila sampai pada tahap menjadi kebisaan dan berlebihan,” tulis Badruddin.

Dalam buku karangan Syeikh Mahmud Al-Mishri yang diterjemahkan oleh Ustad Abdul Somad dengan judul Semua Ada Saatnya, menjelaskan tiga kelompok manusia berdasarkan candaannya. Pertama, orang yang menghabiskan waktu malam dan siangnya hanya dengan tawa dan senda gurau.

Golongan ini termasuk jenis yang tercela, karena sama saja dia telah melewati batas kewajaran, dan termasuk dalam sikap yang berlebihan. Rasulullah SAW bersabda, “jangan perbanyak tawa, karena banyaknya tawa itu mematikan hati,” (HR. Ibnu Majah).

Golongan kedua yakni orang yang bermuka masam dan tidak pernah menunjukkan senyum di wajahnya. Ini termasuk hal yang tercela karena menyebabkan orang lain menjauh bahkan membencinya. Rasulullah SAW bersabda, “senyumanmu ke wajah saudaramu adalah sedekah bagimu,” (HR. Bukhori).

Golongan terakhir, adalah mereka yang berasa di pertengahan antara dua golongan sebelumnya. Rasulullah SAW sendiri termasuk dalam golongan ini, beliau sesekali bercanda dan dalam candaannya hanya melontarkan hal yang benar saja, tanpa perlu mengada-ngada atau menjelekkan seseorang demi mengundang tawa orang lain.

Syeikh Mahmud dalam bukunya juga mencantumkan pengertian dari canda atau gurauan. Menurutnya, gurauan merupakan kebutuhan manusia secara psikis dan akal. Bergurau, katanya juga sudah menjadi tabiat manusia untuk mengurangi kejenuhan saat bekerja sepanjang waktu.

Namun terdapat beberapa gurauan yang diharamkan. Syariat Islam dengan jelas menekankan haramnya kezaliman, penipuan, gosip, adu domba, menghina dan merendahkan orang lain. Gurauan, kata Syaikh Mahmud, jika tidak diletakkan pada porsi dan tempatnya maka dapat beresiko memancing permusuhan.

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, “Gurauan gang dilarang, jika di dalamnya terdapat sikap berlebihan, atau dilakukan secara terus menerus. Karena dalam melalaikan dari zikir mengingat Allah SWT dan memikirkan perkara penting dalam agama. Bahkan seringkali menyebabkan keras hati, menyakiti orang lain, dengki, dan tidak memiliki wibawa.”

Salah satu sahabat Rasulullah SAW, Said bin Al-‘Ash pernah memberikan nasihat pada anaknya. Dia berkata, “wahai anakku, janganlah engkau bercanda dengan orang mulia, karena ia akan dengki terhadapmu dan janganlah engkau bercanda pada rakyat jelata karena ia akan lancang terhadapmu.”

Dalam Alquran, Allah SWT  juga menjelaskan batasan dalam bergurau, dan melarang umat muslim mengejek atau merendahkan suatu golongan. Allah SWT berfirman, “hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan laki-laki merencanakan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruknya panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Al-Hujarat: 11)

Al-Ghazali berkata, “makna olok-olok adalah merendahkan, menghina, menunjukkan cacat atau kekurangan orang lain dengan cara menertawakannya lewat ucapan atau perbuatan, dengan isyarat dan menunjuk langsung. Jika itu dilakukan di hadapan orang yang diejek, maka itu tidak disebut ghibah, akan tetapi mengandung makna ghibah.”

Allah SWT dalam firman-Nya juga menjelaskan balasan bagi orang yang gemar mengolok-olok dan mengejek orang lain. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya orang-orang berdosa adalah mereka yang menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila orang-orang yang beriman melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang gang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang mukmin, mereka mengatakan, ‘sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat’ padahal orang-orang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Makan pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.” (Al-Mutaffifin: 29-30)

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA