Friday, 9 Jumadil Akhir 1442 / 22 January 2021

Friday, 9 Jumadil Akhir 1442 / 22 January 2021

Harga yang Harus Dibayar oleh Kekuasaan

Kamis 26 Nov 2020 17:16 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Pangeran Charles dan Putri Diana berpose bersama pada hari pengumuman pertunangan mereka, Istana Buckingham, Inggris, 24 Februari 1981.

Pangeran Charles dan Putri Diana berpose bersama pada hari pengumuman pertunangan mereka, Istana Buckingham, Inggris, 24 Februari 1981.

Foto: EPA
Kejamnya kekuasaan. Tapi itu tak terhindari.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Denny JA

Semakin kau sukses sebagai penguasa, semakin kau kurang manusiawi. Itulah harga yang harus dibayar menjaga citra sebuah kekuasaan.

Apa pula jadinya, jika hatimu lembut, tapi di pusat kekuasaan, dirimu terperangkap dalam hukum besi yang kejam?

Pesan ini kuat tergambar. Selama enam bulan terakhir, saya menyelami pusat kekuasaan di Inggris. Tidak melalui buku, tapi TV series: 40 episode dari The Crown.

Ketika tulisan ini dibuat, biografi politik dalam bentuk drama film itu sudah sampai di session ke 4, di Netflix. Drama kekuasaan yang terlalu mendominasi kehidupan pribadi dieksplor di sana. Kisah begitu beragam.

Mulai dari seorang gadis muda bernama Elizabeth di tahun 1947 menjelang menjadi Ratu. Drama terus merekam rentang 70 tahun peristiwa hingga ke abad 21.

Tak hanya kisah Elizabeth. Tak hanya kegalauan Raja Philips yang menjadi suaminya. Juga kisah Pangeran Charles. Lady Di. Juga sosok Winston Churchill. Margareth Thatcher.

Namun sisi psikologis paling kelam justru terasa pada drama pribadi Margareth. Ia satu satunya adik Ratu Elisabeth.

Esai ini mengeksplor efek kekuasaan melalui kacamata Margareth. Terutama di episode 37 (Session 4, episode 7: Heredity Principle).

***

Di usia 50-an, Margareth berada di puncak depresi. Rokok, minuman keras, pesta, perselingkuhan. Semua sudah ia lakukan. Namun hal itu tak kunjung kuasa mengobati hal paling dasar: hidup yang tak bermakna. Ia merasa tersisih. Ia melihat kejamnya aturan kerajaan.

Terlalu banyak yang sudah Ia alami. Ketika usia 5 tahun, Ia melihat pamannya King Edward VIII. Pamannya Raja Inggris saat itu. Namun paman jatuh cinta pada Wallis Simpson.

Cinta sang Raja begitu dalam. Tapi Wallis seorang janda. Tak layak raja Inggris menikahi seorang janda. Apalagi bukan pula berdarah biru. Karena tetap memilih cinta, sang Raja dipaksa mundur.

Tiba tiba, Ayahnya Margareth yang menjadi Raja. Lalu kakaknya Elizabeth menggantikan Ayah sebagai Ratu.

Margareth merasa lebih punya kapasitas untuk memimpin. Ia lebih cerdas. Ia lebih banyak membaca. Ia lebih bergaul. Apa daya Ia hanya anak kedua.

Tiba masa dewasa. Ia jatuh cinta pada seorang pria: Peter Townsend. Pria itu begitu matang. Mampu membuatnya terbuai. Ia adalah “love of my life,” ujar Margareth.

Tapi Margareth adalah pewaris tahta kerajaan. Jika ia memaksakan diri menikah, nasibnya seperti Paman. Ia akan dibuang dari Royal Family.

Dengan berat hati, Margareth pun berpisah. Ia melarikan diri merokok, minum, pesta. Ia mencoba menikah. Tapi ujungnya juga bercerai.

Sore itu. Margareth meminta waktu khusus berjumpa Ratu, kakaknya sendiri. Kakak satu satunya.

Ujar Margareth, “Aku datang padamu tidak hanya karena dirimu Ratu. Tapi kau satu satunya kakakku. Beri aku peran yang lebih. Beri aku tugas kerajaan.”

Saat itu, Margareth baru saja jatuh cinta. Tapi sang kekasih memilih menjadi pendeta katolik.

“Hidupku hampa,” ujar Margareth. “Bantu aku. Bantuan seorang kakak kepada adiknya.”

Ratu Elizabeth terdiam. Ia minta waktu memikirkan permintaan itu.

Tak lama kemudian, mereka berjumpa lagi. Elizabeth didampingi penasehat ahli kerajaan.

Bukannya peran baru diberikan kepada Margareth. Ia malah diminta mengurangi perannya. Anak kedua Elizabeth, Andrew sudah berusia 21 tahun.

Berdasarkan aturan kerajaan, anak dari Ratu setelah dewasa akan menggantikan banyak peran kerajaan dari adik Ratu. Margareth berteriak.

“Aku datang padamu sebagai Adik. Bukannya kau beri peran baru padaku untuk mengisi hidupku. Malah peran ku, kau kurangi.”

Elizabeth berteriak tak kalah kerasnya. “Jika aku bisa, semua yang kau minta akan kuberi. Tapi aturan kerajaan harus dipatuhi. Aku bisa apa?”

Dalam hidup yang semakin tersisih, Margareth menemukan hal yang membuatnya terkejut. Alang kepalang.

Inilah yang digali dalam episode ke-37: Heredity Principle.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA

 
 
 

TERPOPULER

Kamis , 01 Jan 1970, 07:00 WIB