Tuesday, 13 Jumadil Akhir 1442 / 26 January 2021

Tuesday, 13 Jumadil Akhir 1442 / 26 January 2021

Dua Jenis Suplemen Ini tak Efektif untuk Jantung

Kamis 26 Nov 2020 05:31 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Nora Azizah

Studi terbaru sebut dua jenis suplemen terbukti tak efektif untuk gangguan jantung (Foto: ilustrasi)

Studi terbaru sebut dua jenis suplemen terbukti tak efektif untuk gangguan jantung (Foto: ilustrasi)

Foto: www.freepik.com
Studi terbaru sebut dua jenis suplemen terbukti tak efektif untuk gangguan jantung.

REPUBLIKA.CO.ID,  LOS ANGELES -- Selama beberapa dekade terakhir, para dokter telah mencari cara pencegahan fibrilasi atrium, gangguan irama jantung yang dapat berakibat fatal. Kondisi umum tersebut sukar diobati dan penanganannya masih samar.

Studi baru berhasil mengesampingkan dua kemungkinan penanganan, yakni suplemen vitamin D dan minyak ikan. Dua suplemen itu terbukti tidak efektif mencegah fibrilasi atrium dan gangguan kardiovaskular pada umumnya.

Uji coba bernama VITAL-Rhythm itu telah dipresentasikan pada konferensi virtual Asosiasi Jantung Amerika. Hasilnya sangat signifikan karena ada 33 juta orang di dunia yang didiagnosis mengidap fibrilasi atrium.

Pemimpin utama studi, Christine Albert, mengatakan fibrilasi atrium bukan penyakit jinak. Jika tidak ditangani, kondisi itu bisa menyebabkan konsekuensi lain seperti stroke, serangan jantung, gagal jantung, demensia, bahkan kematian.

Para dokter mengaku lega melihat bukti bahwa suplemen vitamin D dan minyak ikan tidak membuat perbedaan. Pasalnya, mereka dapat fokus pada batasan penelitian baru, dan menghindari resep yang tidak perlu untuk pasien.

Studi sebelumnya mengidentifikasi kemungkinan hubungan antara suplemen ini dan tingkat fibrilasi atrium, tetapi tidak jelas apakah ada faktor lain. Salah satunya, pilihan gaya hidup yang dilakoni peserta studi.

Albert dan timnya melibatkan 25 ribu sukarelawan, yang secara acak mendapat suplemen vitamin D, minyak ikan, atau pil plasebo. Penelitian juga mewakili populasi Afrika-Amerika dan kelompok gender perempuan dalam jumlah lebih besar.

Hasilnya tidak menunjukkan perbedaan berarti. Albert yang merupakan pimpinan Departemen Kardiologi di Institut Smidt Heart, Cedars-Sinai, AS, menyarankan tidak lagi mengonsumsi suplemen serupa dan beralih ke pola makan sehat.

Albert mengatakan pencegahan paling efektif adalah mengasup makanan dengan nutrisi seimbang. Cara lain, mempertahankan bobot ideal, tidak minum alkohol, dan mengonsumsi makanan untuk menurunkan tekanan darah.

"Menurut saya, ada baiknya menyimpan uang Anda dengan tidak membeli suplemen, kemudin fokuskan waktu dan uang untuk aktivitas yang mendukung gaya hidup sehat," ucap Albert, dikutip dari laman ABC News, Rabu (25/11).

Direktur kesehatan kardiovaskular di Pusat Medis Universitas Johns Hopkins, Erin Michos, mengatakan studi tersebut mendapat pujian pada konferensi. Keterlibatan banyak sukarelawan mewakili beragam ras dan jenis kelamin.

Secara historis, uji coba besar lain terkendala kurangnya representasi dan keragaman responden. Akibatnya, sulit bagi dokter untuk menerapkan uji coba pada populasi pasien mereka yang sebenarnya.

Sementara, penelitian mempelajari komparasi vitamin D dengan plasebo, sekaligus mempelajari Omega-3 laut versus plasebo laut secara bersamaan. Michos mengatakan bahwa perbandingan itu sangat penting.

Selain itu, Michos mengatakan bahwa perempuan seringkali kurang terwakili dalam uji kardiovaskular, yang membatasi pemahaman dokter. Terutama, tentang perbandingan obat atau perawatan pada perempuan dan laki-laki.

Namun, ini tidak terjadi dalam uji coba VITAL-Rhythm yang 51 persen di antaranya perempuan. Begitu pula keterlibatan lebih dari 20 persen peserta Afrika-Amerika yang artinya sudah mewakili proporsinya dalam populasi AS.

Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian telah menunjukkan peningkatan perilaku warga AS dalam konsumsi suplemen. Akan tetapi, peneliti mengatakan manfaat kesehatan sebenarnya dari suplemen sering kali dilebih-lebihkan.

"Untuk sebagian besar suplemen, tampaknya tidak ada manfaat apa pun, apalagi jika seseorang tidak mengalami kekurangan gizi. Beberapa suplemen dosis tinggi bahkan dapat menyebabkan kerusakan," kata Michos.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA