Sunday, 11 Jumadil Akhir 1442 / 24 January 2021

Sunday, 11 Jumadil Akhir 1442 / 24 January 2021

Tak Sepaham dengan Erdogan, Penasihat Presiden Mundur

Rabu 25 Nov 2020 17:05 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Teguh Firmansyah

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Foto: Presidensi Turki via AP, Pool
Arınç berselisih soal Osman Kavala dan Selahattin Demirtaş yang dimasukkan ke penjara

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Anggota Dewan Penasihat Tinggi Presiden, Bülent Arınç, mengundurkan diri pada Selasa (24/11) seusai berselisih dengan Presiden Recep Tayyip Erdoğan. Arınç tak sepakat memasukkan filantropis Osman Kavala dan mantan ketua  Peoples’ Democratic Party (HDP) Selahattin Demirtaş ke penjara.  

"Peradilan, ekonomi, dan wilayah lain di Turki membutuhkan reformasi, ada kebutuhan untuk negara kami untuk santai dan menemukan solusi atas masalah negara kami," cicit mantan wakil perdana menteri Turki itu di Twitter, seperti dikutip Hurriyet Daily, Rabu (25/11).

"Saya sudah berulang kali menyatakan di program-program televisi, saya melihat niatan presiden kami ke arah itu dan saya mendukungnya, tetapi saya memutuskan akan lebih pantas bagi saya untuk meninggalkan posisi saya sebagai anggota Dewan Penasihat Tinggi," katanya menambahkan.

Dalam wawancara 20 November lalu, Arınç mengkritik vonis hukuman penjara Kaval dan Demirtaş. Ia mendukung pembebasan mereka. Pernyataan ini disampaikan setelah Erdoğan berjanji mereformasi sistem peradilan dan ekonomi.

Pekan lalu, Ketua Nationalist Movement Party (MHP) Devlet Bahçeli menyerang Arınç atas pernyataan tersebut. Erdoğan juga mengkritik pernyataan itu. "Tidak ada pendapat pribadi yang dapat dikaitkan dengan presiden, pemerintah, dan partai kami," kata Erdoğan.

Pada 23 November lalu Arınç mengatakan pada kolumnis media Turki, Posta, Murat Çelik, 'saya sangat tersinggung' dengan pernyataan Erdoğan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

 

BERITA LAINNYA