Tuesday, 13 Jumadil Akhir 1442 / 26 January 2021

Tuesday, 13 Jumadil Akhir 1442 / 26 January 2021

Jika Boko Haram Mengaku Islam, Mengapa Bunuh Muslim Nigeria?

Rabu 25 Nov 2020 16:42 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Nashih Nashrullah

Boko Haram juga membunuh umat Islam tak hanya non-Muslim di Nigeria Militan Boko Haram memamerkan senjatanya.

Boko Haram juga membunuh umat Islam tak hanya non-Muslim di Nigeria Militan Boko Haram memamerkan senjatanya.

Foto: Worldbulletin.net
Boko Haram juga membunuh umat Islam tak hanya non-Muslim di Nigeria

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Penulis sekaligus peneliti agama, Jenny Taylor, menyajikan beberapa pandangan terkait pembunuhan massal terhadap Muslim di Nigeria utara, melalui artikel yang dimuat di MercatorNet. 

Dia mengawali tulisannya dengan menyebut bahwa intelektual Islam Timur Tengah berada di balik kekejaman massal yang dilakukan  Muslim terhadap Muslim lainnya di Nigeria Utara.

Klaim tersebut dilontarkan analis dari Tony Blair Institute (TBI), Bulama Bukarti, yang pernah menjadi imam universitas Nigeria. Bukarti, yang telah menasihati Uskup Agung Canterbury, telah mempelajari kelompok militan Islam yang brutal Boko Haram dan pengaruh ideologisnya selama lebih dari satu dekade.

Baca Juga

Bukarti saat ini sedang membuat sebuah laporan besar yang akan diterbitkan TBI. Temuannya menunjukkan bahwa sebanyak 44 dari 46 yang disebut "ulama" yang mempengaruhi Boko Haram adalah oknum warga Arab Saudi. Hanya dua yang asli Nigeria, dan dia tidak mengatakan siapa sampai setelah publikasi.

Menurut Bukarti, yang mengutip Presiden Nigeria dalam artikel baru-baru ini, sebanyak 90 persen korban Boko Haram adalah Muslim. "Boko Haram tidak mempercayai kami Muslim. Mereka memiliki penafsiran Islam yang sempit dan eksklusif dan siapapun yang tidak setuju adalah murtad," kata Bukarti. 

"Ini adalah ideologi dari Timur Tengah. Dari dokumen yang saya kodekan, dari 46 ulama yang mereka rujuk, hanya dua yang asli. Sebanyak 44 adalah Arab Saudi atau Timur Tengah," sambungnya.

Bukarti mengatakan, para "cendekiawan" ini beroperasi menurut sebagian besar teks anakronistik, yang berusaha untuk menyingkirkan orang-orang yang lemah. Atau dengan berpura-pura beriman sesuai dengan pembacaan Alquran yang ekstrem yang dikembangkan selama invasi Mongol ke Mesopotamia pada abad ke-14.

"Sebelas teks yang paling sering digunakan (untuk membenarkan pembunuhan) berasal dari Alquran itu sendiri, diambil di luar konteks," kata Bukarti, yang menghadapi ancaman pembunuhan terhadap dirinya dan keluarganya karena mengungkap fakta.

Sebanyak 60 ribu orang, baik Muslim dan Kristen, meninggal dunia di tangan Boko Haram dan milisi lain di Sabuk Tengah sejak tahun 2000, dengan mengakibatkan adanya 350 ribu orang yang mengungsi. Selain itu Boko Haram juga telah membuat 2,5 juta orang lain mengungsi. Sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak di wilayah yang lebih luas.

Nama resmi Boko Haram dalam bahasa Arab adalah Jama'atu Sunna Lidda’awati wal-Jihad, yang berarti 'Orang yang Berkomitmen untuk Menyebarkan Ajaran Nabi dan Jihad'. "Salah satu teks Alquran yang paling sering dikutip adalah bahwa 'Tidak ada yang menjadi hakim kecuali Tuhan'," kata Bukarti.

"Ini dianggap menyiratkan bahwa orang Nigeria yang menempatkan diri mereka di bawah sistem di mana manusia membuat hukumnya atau bahkan menolak secara terbuka dan menentangnya, menjadi murtad," sambung Bukarti.

Kemurtadan dalam Islam mengacu pada Muslim yang secara teknis dan praktis telah menempatkan diri mereka di luar perlindungan Islam, dan dalam beberapa tafsir kitab suci, harus dihukum mati.

Ahli hukum Suriah, Ibnu Taimiyah, yang menulis pada saat invasi Mesopotamia oleh prajurit Mongol pada abad ke-14, mengembangkan sistem hukum. Sistem ini kemudian diadopsi fundamentalis Muhammad bin Abdul Wahhab, Hasan al-Banna, dan Sayyid Qutb, yang bermaksud menyingkirkan iman yang lemah atau "nyaman". Banyak orang Mongol sebenarnya adalah orang Kristen Nestorian.

Doktrin Ibnu Taimiyah tentang al-wala wal-bara (cinta dan penolakan), mensyaratkan untuk bersekutu secara eksklusif dengan Muslim dan menghindari non-Muslim.

Direktur di Pusat Internasional untuk Studi Radikalisasi dan Kekerasan Politik di King's College, Cambridge, Shiraz Maher, menjelaskan, "Hal itu berarti memusuhi non-Muslim untuk menghindari pembatalan Islam Anda."

Dalam Salafi-Jihadism: The History of an Idea, Maher menulis bahwa untuk setiap tindakan kekerasan, mereka akan menawarkan beberapa bentuk referensi ke sumber-sumber kitab suci, meski betapapun lemahnya, esoteris, atau diperdebatkan. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA