Thursday, 10 Ramadhan 1442 / 22 April 2021

Thursday, 10 Ramadhan 1442 / 22 April 2021

Jadi klaster Baru, KBM Pesantren di Indramayu Dihentikan

Rabu 25 Nov 2020 10:56 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Bilal Ramadhan

Petugas memeriksa suhu badan santri yang baru tiba di sebuah pondok pesantren

Petugas memeriksa suhu badan santri yang baru tiba di sebuah pondok pesantren

Foto: Antara/Dedhez Anggara
Interaksi dari luar dan internal pesantren dibatasi, termasuk antarsantri.

REPUBLIKA.CO.ID, INDRAMAYU – Aktivitas kegiatan belajar mengajar (KBM) di salah satu pesantren di Kecamatan Bongas, Kabupaten Indramayu, dihentikan sementara. Hal itu menyusul ditemukannya 20 orang terkonfirmasi positif Covid-19 di pesantren tersebut.

"Aktivitas KBM di pesantren dihentikan sementara,’’ ujar Jubir Satgas Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Kabupaten Indramayu, Deden Bonni Koswara, Selasa (24/11).

Dari 20 orang terkonfirmasi positif Covid-19 di pesantren itu, sebanyak 18 orang di antaranya merupakan santri/pelajar. Sedangkan sisanya berstatus ibu rumah tangga dan wiraswasta.

Puluhan pasien positif itu saat ini menjalani isolasi mandiri di pesantren. Pihak satgas sudah meminta agar para pasien positif itu dipisahkan dari penghuni pesantren lainnya yang tidak terpapar virus tersebut.

"Kami terus memantau kondisi kesehatan ke-20 pasien itu,’’ ujar dia.

Jika tempat isolasi pasien di RSUD MIS Krangkeng siap digunakan, lanjut Deden, maka mereka akan dibawa ke tempat tersebut. Saat ini, persiapan penggunaan RSUD MIS Krangkeng sebagai tempat isolasi pasien Covid-19 terus dilakukan.

Selain itu, lanjut Deden, pihaknya juga sudah meminta kepada camat Bongas selaku satgas kecamatan, untuk melakukan penyemprotan desinfektan di pesantren tersebut.

Kami juga memberikan bantaun sembako dan vitamin,’’ tutur Deden.

Deden menjelaskan, klaster pondok pesantren itu merupakan kontak erat dari pasien positif sebelumnya, yang telah meninggal dunia pada 8 November 2020. Almarhum merupakan salah satu tokoh agama di pesantren tersebut.

Saat pasien meninggal, hasil pemeriksaan swab-nya belum keluar sehingga status pasien belum diketahui secara pasti. Meski demikian, petugas RSUD Indramayu tetap melakukan pemulasaran jenazah sesuai protokol Covid-19. Walau setuju, namun warga meminta agar jenazah dibawa ke pesantren dulu untuk disolatkan.

"Jadi tidak langsung ke pemakaman. Jenazah kemudian disholatkan di depan mobil (ambulance). Hal itu dilakukan karena mereka ingin menghormati tokoh agama tersebut,’’ tutur Deden.

Deden menambahkan, saat ini pihaknya telah meminta agar satgas kecamatan untuk lebih siaga menerapkan protokol kesehatan di lingkungan pesantren tersebut. Petugas satgas diminta disiagakan di bagian depan untuk melakukan pengukuran suhu tubuh, dan memastikan penggunaan masker serta mencuci tangan.

Hal senada diungkapkan Pjs Bupati Indramayu, Bambang Tirtoyuliono. Dia mengatakan, pembatasan ketat diberlakukan di sana. Interaksi dari luar dan internal pesantren itu untuk sementara dibatasi, termasuk antarsantri. Santri yang positif Covid-19 ditempatkan terpisah untuk isolasi mandiri.

"Tenaga kesehatan kita siagakan di sana melakukan pendampingan dan pemantauan,’’ tandas Bambang.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA