Saturday, 3 Jumadil Akhir 1442 / 16 January 2021

Saturday, 3 Jumadil Akhir 1442 / 16 January 2021

Kemendag: Impor Gula Bikin Defisit Perdagangan RI Membengkak

Rabu 25 Nov 2020 01:09 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya

Gula impor menjadi penyebab defisit terbesar perdagangan komoditas nonmigas.

Gula impor menjadi penyebab defisit terbesar perdagangan komoditas nonmigas.

Foto: Tim Infografis Republika.co.id
Gula dan kembang gula menjadi komoditas nonmigas penyebab defisit terbesar keenam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan, ketergantungan Indonesia terhadap impor gula menjadi salah satu penyebab membengkaknya defisit perdagangan non migas. Peningkatan produksi dalam negeri harus dimulai demi membenahi neraca perdagangan nasional.

"Kebijakan impor gula membuat defisit perdagangan membesar," kata Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, Didi Sumedi dalam National Sugar Summit, Selasa (24/11).

Ia mengatakan, gula dan kembang gula menjadi komoditas nonmigas penyebab defisit terbesar keenam. Pada periode Januari-Oktober 2019, defisit perdagangan gula mencapai 1,18 miliar dolar AS. Defisit kemudian kembali melebar periode Januari-Oktober 2020 menjadu 1,87 miliar dolar AS.

Baca Juga

Adapun sepanjang 2019, defisit perdagangan gula mencapai 1,36 juta dolar AS. Laju defisit perdagangan gula terjadi lantaran kebutuhan gula nasional tidak bisa dipenuhi oleh produksi dalam negeri.

Rata-rata produksi gula nasional hanya 2,2 juta ton per tahun. Adapun kebutuhan gula konsumsi per tahun mencapai 2,8 juta ton dan gula industri 3,62 juta ton. Dengan kata lain, angka impor gula per tahun saat ini mencapai lebih dari 4 juta ton.

Didi menjelaskan, kurun waktu 2015-2019, volume impor gula tumbuh sebesar 4,5 persen per tahun. Adapun rata-rata pertumbuhan nilai impor berkisar 0,2 persen per tahun.

Sepanjang periode Januari-September 2020, nilai impor gula Indonesia naik 63,8 persen (year on year/yoy) dari 1 miliar dolar AS menjadi 1,7 miliar dolar AS. Peningkatan tersebut lebih tinggi dibanding kenaikan volume impor yang naik 58 persen.

"Sebagian besar impor gula berupa gula kristal mentah atau gula mentah yang nilainya mencapai 1,6 miliar dolar AS atau setara 4,64 juta ton," ujarnya. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA