Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Wednesday, 10 Rabiul Akhir 1442 / 25 November 2020

Penelitian: Vitamin D Tekan Risiko Kanker dan Lawan Covid-19

Sabtu 21 Nov 2020 12:34 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Nora Azizah

Vitamin D kurangi risiko kanker stadium lanjut hingga bantu pasien Covid-19 pulih (Foto: Ilustrasi Vitamin)

Vitamin D kurangi risiko kanker stadium lanjut hingga bantu pasien Covid-19 pulih (Foto: Ilustrasi Vitamin)

Foto: picpedia.org
Vitamin D kurangi risiko kanker stadium lanjut hingga bantu pasien Covid-19 pulih.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nutrisi merupakan bagian penting dari makanan sebab dibutuhkan oleh tubuh untuk fungsi dasar yang tidak diproduksi oleh tubuh itu sendiri. Salah satu nutrisi yang telah banyak dibicarakan karena efektif meningkatkan imunitas, terutama melawan virus adalah vitamin D.

Penelitian terbaru menemukan bahwa vitamin D dapat membantu mengurangi risiko kanker stadium lanjut. Bahkan, juga bisa membantu pasien yang baru pulih dari COVID-19.

Para peneliti mengatakan, orang yang mengonsumsi suplemen vitamin D secara teratur memiliki kemungkinan 17 persen lebih kecil terkena kanker stadium akhir, dan juga mengurangi risiko kematian. Penelitian tersebut dilakukan oleh para ahli di Universitas Harvard.

Studi yang telah dipublikasikan di jurnal medis JAMA Network Open ini melawan temuan awal dari studi yang dilakukan pada 25 ribu orang yang diterbitkan pada 2018. Studi awal menemukan bahwa tidak ada manfaat mengonsumsi vitamin D, karena tidak menunjukkan penurunan diagnosis kanker secara keseluruhan.

Namun, penelitian terbaru sukses melakukan analisis lain hingga sampai pada simpulan bahwa suplemen vitamin D telah mengurangi kematian akibat kanker. Hal ini dapat dijelaskan oleh fakta bahwa vitamin D tampaknya menghentikan kanker metastasis, jenis agresif yang menyebar ke bagian lain dari tubuh.

Peneliti Dr Paulette Chandler, dokter perawatan primer dan ahli epidemiologi di Rumah Sakit Wanita dan Brigham Harvard di Boston, mengatakan bahwa vitamin D adalah suplemen yang sudah tersedia. Harganya juga murah dan telah digunakan serta dipelajari selama beberapa dekade.

“Temuan kami, terutama penurunan risiko yang kuat yang terlihat pada individu dengan berat badan normal, memberikan informasi baru tentang hubungan antara vitamin D dan kanker stadium lanjut,” kata dia seperti dikutip dari Times Now News pada Sabtu (21/11).

Ada juga bukti yang berkembang pesat bahwa vitamin D efektif melindungi dari Covid-19. Dalam sebuah penelitian lain yang diterbitkan oleh dokter dari PGIMER, ditemukan bahwa peran suplemen vitamin D telah ditetapkan dalam mencapai negativitas SARS-CoV-2 RNA di antara pasien COVID-19.

Vitamin D memiliki efek imunomodulator dan dapat mengurangi kerentanan dan keparahan infeksi virus. Penelitian bertajuk Short term, high-dose vitamin D supplementation for Covid-19 disease ini dilakukan oleh Dr Ashu Rastogi, Dr Anil Bhansali, Dr Niranjan Khare, Dr Vikas Suri, Dr Narayana Yaddanapudi, Dr Naresh Sachdeva, Dr GD Puri dan Dr Pankaj Malhotra.

Studi ini melibatkan 40 pasien Covid-positif tidak bergejala atau gejala ringan yang kekurangan vitamin D. Pasien yang membutuhkan ventilasi invasif atau dengan komorbiditas yang signifikan tidak termasuk dalam penelitian. Studi tersebut menyimpulkan bahwa suplemen vitamin D dosis tinggi membantu mencapai negatif RNA SARS-CoV-2 pada sebagian besar peserta.

“Negatifitas SARS-CoV-2 RNA oleh suplementasi cholecalciferol (vitamin D) dapat membantu mengurangi tingkat penularan infeksi SARS-CoV-2 yang sangat menular," demikian bunyi kesimpulan penelitian.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA