Friday, 12 Rabiul Akhir 1442 / 27 November 2020

Friday, 12 Rabiul Akhir 1442 / 27 November 2020

AS dan Taiwan Lakukan Pembicaraan Ekonomi Lawan Cina

Sabtu 21 Nov 2020 12:20 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Teguh Firmansyah

Hubungan Taiwan dan China kian memanas.

Hubungan Taiwan dan China kian memanas.

Foto: AP/Reuters/berbagai sumber
Keduanya sepakat untuk merundingkan perjanjian sains dan teknologi.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Amerika Serikat (AS) dan Taiwan menggelar pembicaraan tentang penguatan hubungan ekonomi dalam menghadapi tekanan yang meningkat di pulau itu dari China, Jumat (21/11). Langkah ini dinilai menjadi sebuah kemajuan yang besar bagi hubungan kedua negara yang berselisih dengan Beijing.

Pembicaraan Dialog Kemitraan Kemakmuran Ekonomi yang baru ini diadakan secara virtual dan langsung. Acara dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri AS, Keith Krach. Adapun dari Taiwan ada Wakil Menteri Urusan Ekonomi Taiwan, Chen Chern-chyi.

Sebuah pernyataan dari kantor perwakilan Taiwan di Washington mengatakan, kedua belah pihak menandatangani nota kesepahaman untuk membentuk mekanisme dialog yang dilembagakan. "Kedua belah pihak juga membahas berbagai masalah termasuk sains dan teknologi, restrukturisasi rantai pasokan, jaringan 5G, tinjauan investasi, infrastruktur dan energi, keamanan kesehatan global dan pemberdayaan ekonomi perempuan," katanya.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan, keduanya sepakat untuk merundingkan perjanjian sains dan teknologi untuk memajukan pemahaman dan kolaborasi bersama dalam berbagai topik sains dan teknologi. Pembicaraan di masa depan akan membantu memperkuat hubungan ekonomi dan komitmen bersama kedua negara terhadap pasar bebas, kewirausahaan, dan kemerdekaan.

Kedekatan antara Taipei dan Washington membuat Beijing meradang. China mengklaim  Taiwan sebagai wilayah mereka. Beijing marah ketika Menteri Kesehatan AS Alex Azar mengunjungi Taipei pada Agustus, diikuti oleh Krach pada September. Kunjungan ini membuat Beijing mengirimkan jet tempur ke dekat pulau itu.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA