Wednesday, 14 Jumadil Akhir 1442 / 27 January 2021

Wednesday, 14 Jumadil Akhir 1442 / 27 January 2021

Psikolog: Anak Rindu Teman, Orang Tua Harus Bisa Jadi Teman

Jumat 20 Nov 2020 21:33 WIB

Red: Nora Azizah

Orang tua harus bisa memosisikan diri sebagai teman agar anak tak bosan di rumah (Foto: ilustrasi)

Orang tua harus bisa memosisikan diri sebagai teman agar anak tak bosan di rumah (Foto: ilustrasi)

Foto: www.freepik.com
Orang tua harus bisa memosisikan diri sebagai teman agar anak tak bosan di rumah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Psikolog anak Seto Mulyadi (Kak Seto) mengajak para orang tua untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Hal itu dilakukan agar anak tidak bosan saat harus belajar di rumah di tengah pandemi COVID-19.

"Kunci utamanya adalah komunikasi, komunikasi yang efektif," kata Seto Mulyadi atau lebih akrab disapa Kak Seto dalam konferensi pers virtual Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 dalam rangka memperingati Hari Anak Sedunia di Jakarta, Jumat (20/11).

Ia mengatakan, untuk mencapai komunikasi yang efektif, para orang tua diharapkan dapat memosisikan anak sebagai sahabat. Bukan sebagai bawahan yang harus menerima perintah.

"Anak-anak rindu ingin bertemu teman-temannya. Maka mohon ayah dan ibu memosisikan juga sebagai teman. Jadi perlu persahabatan, tidak ada kekerasan, tidak ada pemaksaan, dan sebagainya," kata dia.

Untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, katanya, para orang tua juga diajak untuk menerapkan pembelajaran jarak dekat (PJD), bukan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Dengan PJJ, para anak diharuskan belajar secara daring, belajar dengan bertatap muka dengan gurunya dari jarak jauh melalui layar komputer.

Padahal, kemampuan anak untuk terus menatap layar komputer selama berjam-jam bisa membuatnya pusing, lelah dan bisa juga menjadi bosan. Hal itu, akan membuat suasana belajar menjadi kontraproduktif dengan tujuan utama anak-anak belajar, selain juga membuatnya tidak optimal.

"Bikin pusing, bikin lelah, akhirnya jadi kontraproduktif. Jadi tidak optimal. Bahkan akhirnya jadi bosan, benci belajar dan bisa fobia terhadap belajar," katanya.

Untuk itu, ia menyarankan agar PJJ tersebut diganti menjadi PJD. Dengan pembelajaran jarak dekat, artinya anak-anak tidak lagi harus belajar jarak jauh secara daring, tetapi belajar bersama orang tua yang menggantikan posisi guru.

"Jadi belajarnya bukan belajar dari rumah menatap ke sekolah, tapi belajar di rumah, belajar dengan gembira. Gurumya adalah ayah dan bunda, dan karena keadaanya darurat, materinya juga harus kurikulum darurat," demikian kata Kak Seto.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA