Friday, 12 Rabiul Akhir 1442 / 27 November 2020

Friday, 12 Rabiul Akhir 1442 / 27 November 2020

Lampard Pertimbangkan Kurangi Latihan Sundulan

Jumat 20 Nov 2020 16:54 WIB

Red: Agung Sasongko

 Frank Lampard

Frank Lampard

Foto: EPA-EFE/Ben Stansall
Lampard juga mendukung pedoman guna mengurangi sundulan dalam latihan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemain seharusnya berhenti menyundul bola dalam latihan jika penelitian membuktikan bahwa itu menyebabkan demensia ketika mereka tua. Demikian wacana yang mengemuka dikalangan pelatih di Liga Primer Inggris menyusul meninggalnya Nobby Stiles dari Inggris.

Stiles dan beberapa rekan setimnya yang memenangi Piala Dunia 1966 didiagnosa menderita demensia sebelum mereka meninggal, sementara bintang Manchester United Bobby Charlton (83), juga mengungkapkan hasil diagnosa atas dirinya baru-baru ini.

Keluarga Stiles berharap itu akan menjadi katalis untuk mengatasi demensia sementara Geoff Hurst, pahlawan Inggris yang mencetak hattrick pada final 1966, mengatakan sering menyundul bola dalam latihan adalah berbahaya dan anak-anak seharusnya tidak melakukannya sama sekali.

Baca Juga

"Jika mereka menemukan melalui penelitian bahwa menyundul bola 10 kali dalam latihan akan menyebabkan Anda demensia, maka mari kita hentikan," kata bos West Bromwich Albion Slaven Bilic kepada wartawan yang dikutip Reuters, Jumat.

"Bagi saya, hal yang hebat adalah mereka membicarakannya dan mengakuinya."

Pelatih Chelsea Frank Lampard mengatakan ia sekarang sedang mempertimbangkan bagaimana para pemain berlatih dan mendukung peraturan untuk mengurangi sundulan dalam sepak bola remaja sebelum menerapkan pedoman yang lebih tinggi.

"Aturan ini harus lebih kuat untuk memastikan kita tidak membuat anak-anak muda menyundul jika mereka tidak membutuhkannya," kata Lampard.

"Kita harus mulai dengan sepak bola remaja. Ketika anak-anak berkembang, kita bisa mengendalikan tingkat latihan. Apapun yang bisa kita lakukan untuk membuatnya lebih aman, harus kita lakukan."

Manajer Aston Villa Dean Smith, yang ayahnya didiagnosa menderita demensia sebelum meninggal karena COVID-19, menyuarakan pandangan Bilic mengenai dibutuhkannya penelitian lebih lanjut.

"Sayangnya Demensia dan Alzheimer lebih lazim di seluruh dunia sekarang, tapi saya pikir jika ada korelasi antara menyundul dalam sepak bola dan demensia maka kita perlu melakukan sesuatu," kata Smith.

"Bola dulu lebih berat. Kita semua sedih dengan para mantan pemain yang menderita demensia."

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA