Jumat 20 Nov 2020 12:02 WIB

Menelisik Wabah Pes Pertama di Hindia Belanda

Pemerintah kolonial Belanda sempat menyangkal keberadaan penyakit pes.

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Ani Nursalikah
Perbatasan Malang dijaga militer kolonial saat mewabahnya pes pada 1910-1911.
Foto: Dok Istimewa
Perbatasan Malang dijaga militer kolonial saat mewabahnya pes pada 1910-1911.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam rangka memperingati Hari Filsafat Dunia pada Kamis (19/11), Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) 2020 mengambil tema Ekologi dan Bencana dalam Refleksi Kebudayaan Nusantara. Salah satu acaranya, yakni peluncuran buku dari empat penulis yang membahas wabah penyakit pada zaman kolonial.

Salah satu penulisnya adalah Syefri Luwis yang sekaligus peneliti sejarah wabah Universitas Indonesia. Dia menulis buku Epidemi Penyakit Pes di Malang 1911-1916.

Baca Juga

“Awalnya penyakit pes adalah penyakit antarhewan yang menular ke manusia lalu dari manusia ke manusia,” kata Syefri, dalam webinar BWCF, Kamis (19/11).

Ada beberapa faktor penyebaran pes di Indonesia. Pertama, dari faktor alam termasuk geografi, suhu, dan musim, kedua faktor transportasi, dan terakhir faktor ekonomi.

Sebelum menjelaskan penyebaran pes, dia merinci terlebih dahulu jenis penyakit pes. Penyakit pes ada tiga jenis.

Pertama, pes bubo atau biso. Kedua, pes paru-paru seperti TBC atau influenza yang bersifat airbone disease. Ketiga, pes septikemi.

Pada pes septikemi, bakteri langsung masuk ke jaringan darah tanpa ada tanda-tanda seperti pes bubo atau pes paru-paru. Ini juga merupakan pes mengerikan karena menelan korban banyak.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement