Thursday, 13 Rajab 1442 / 25 February 2021

Thursday, 13 Rajab 1442 / 25 February 2021

Muslim Menangis di Dunia, dan Tertawa Bahagia di Akhirat

Selasa 17 Nov 2020 23:02 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Muslim akan banyak menangisi dosa yang diperbuat di dunia. Ilustrasi menangisi dosa

Muslim akan banyak menangisi dosa yang diperbuat di dunia. Ilustrasi menangisi dosa

Foto: Darmawan / Republika
Muslim akan banyak menangisi dosa yang diperbuat di dunia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Sedemikian tingginya nilai orang yang bisa menangis karena mengingat dosanya, sampai-sampai Rasulullah SAW menjaminnya sebagai salah satu dari tujuh kelompok orang yang akan mendapat lindungan Allah SWT di Hari Akhir kelak. Yaitu, hari di mana tidak ada lindungan kecuali lindungan Allah SWT. (HR Bukhari Muslim)

Orang yang menangis karena mengingat dosanya berarti ia mengakui kekhilafannya sebagai hamba Allah SWT. Ia akan merasa dirinya selalu kurang dalam beramal saleh. Perasaan seperti ini jelas akan membawa kepada sikap positif, yaitu dorongan untuk terus-menerus memperbanyak amal saleh dan meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat. 

Sebaliknya, perasaan puas terhadap amal saleh yang diperbuat justru akan mematikan semangat untuk beramal saleh lebih banyak lagi. Pendek kata, mengingat dosa lebih baik daripada menghitung-hitung amal saleh.

Baca Juga

Menangis karena dosa diawali kesadaran bahwa Allah SWT mengetahui semua perbuatan manusia baik yang positif maupun negatif. Allah SWT akan membalas setiap dosa yang diperbuat manusia. Siksa yang kekal di neraka akan dirasakan oleh orang yang berlumuran dosa dan tidak pernah bertobat dari dosa-dosanya. Allah SWT berfirman: 

قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ# فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

''Katakanlah (hai Muhammad), api neraka itu lebih dahsyat panasnya jikalau mereka mengetahui. Maka, hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak-banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.'' (QS Al-Taubah: 81-82)

Bagi seorang mukmin, keyakinan bahwa kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal dan abadi mestinya menjadi pendorong untuk mengingat dosa yang pernah diperbuat dan menggantinya dengan amal saleh. Menangislah di dunia karena dosa-dosa, niscaya di akhirat nanti termasuk kelompok orang yang wajahnya berseri-seri.

Suatu hari Sufyan al-Tsauri terlihat menangis dan cemas. Melihat hal itu, salah seorang sahabatnya berkata, ''Tetaplah engkau berharap kepada Allah. Sesungguhnya ampunan Allah lebih besar daripada dosa-dosamu.'' Lalu, Sufyan al-Tsauri menjawab, ''Tidak bolehkah aku menangisi dosa-dosaku? Jika saja aku telah mengetahui bahwa aku akan mati dalam keadaan tetap mengesakan Allah, maka aku tidak akan peduli dengan dosa-dosaku yang sebesar gunung-gunung itu.''

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA