Thursday, 1 Zulhijjah 1443 / 30 June 2022

Ka'bah Sebagai Pusat Magnet Bumi, Benarkah?

Rabu 18 Nov 2020 05:45 WIB

Rep: Ali Yusuf/ Red: Ani Nursalikah

Kabah Sebagai Pusat Magnet Bumi, Benarkah?  Proses penggantian kain kiswah Kabah di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi.

Kabah Sebagai Pusat Magnet Bumi, Benarkah? Proses penggantian kain kiswah Kabah di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi.

Foto: EPA-EFE/SAUDI MINISTRY OF MEDIA
Para astronaut menemukan planet bumi mengeluarkan semacam radiasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mind Muhammad dalam bukunya Magnet Umrah menceritakan, ketika Neil Amstrong untuk pertama kalinya melakukan perjalanan ke luar angkasa dan mengambil gambar bumi, dia berkata, "Planet bumi ternyata menggantung di area yang sangat gelap, siapa yang menggantungkannya?"

Para astronaut menemukan planet bumi mengeluarkan semacam radiasi. Pernyataan itu secara resmi diumumkan di situsnya, tetapi sayangnya 21 hari kemudian situs tersebut raib yang sepertinya ada alasan tersembunyi dibalik penghapusan situs tersebut.

Baca Juga

"Setelah melakukan penelitian lebih lanjut ternyata radiasi tersebut berpusat di Kota Makkah, tepatnya berasal dari Ka'bah," kata Muhammad dalam bukunya.

Dan yang mengejutkannya adalah radiasi tersebut bersifat infinite (tidak berujung). Hal ini terbukti ketika mereka mengambil foto planet Mars, radiasi tersebut masih berlanjut. Para peneliti Muslim mempercayai radiasi ini memiliki karakteristik dan menghubungkan antara Ka'bah di bumi dengan Ka'bah di alam akhirat.

Muhammad mengatakan  di tengah-tengah antara kutub utara dan kutub selatan ada suatu area yang bernama zero magnetism area. Artinya adalah apabila kompas dikeluarkan, di area tersebut, maka jarum kompas tersebut tidak akan bergerak sama sekali.

"Ini karena daya tarik yang sama besarnya antara kedua kutub," katanya.

Itulah sebabnya jika seseorang tinggal di Makkah, ia akan hidup lebih lama, lebih sehat, dan tidak banyak dipengaruhi oleh banyak kekuatan gravitasi. Oleh sebab ketika kita mengelilingi Ka'bah, maka seakan-akan diri kita diisi ulang oleh suatu energi misterius.

"Dan ini adalah fakta yang telah dibuktikan secara ilmiah," katanya.

Penelitian lainnya mengungkapkan batu Hajar Aswad merupakan batu tertua di dunia dan juga bisa mengembang di air. Di sebuah museum di Inggris ada tiga buah potongan batu tersebut (dari Ka'bah). Pengelola museum juga mengatakan bongkahan batu-batu tersebut bukan berasal dari sistem tata surya anda.

Dalam salah satu kesempatan, Rasulullah bersabda, "Hajar Aswad itu diturunkan dari surga warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa-dosa anak cucu Adamlah yang menjadikannya hitam." 

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anmhuma ia berkata Rasulullah SAW bersabda, "Hajar Aswad turun dari surga padahal batu tersebut begitu putih lebih putih daripada susu, dosa manusialah yang membuat batu tersebut menjadi hitam." (HR. Tirmidzi Nomor 877, shahih menurut Syekh Al-Albani).

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA