Selasa 17 Nov 2020 19:00 WIB

Intelijen Beberkan Siapa yang Tanggung Jawab Ledakan Lebanon

Intelijen Lebanon membeberkan pihak-pihak yang harus bertanggung jawab atas ledakan

Rep: Fergi Nadira/ Red: Christiyaningsih
Asap mengepul dari lokasi ledakan yang melanda pelabuhan Beirut, Lebanon, Rabu, 5 Agustus 2020.
Foto: AP/Hussein Malla
Asap mengepul dari lokasi ledakan yang melanda pelabuhan Beirut, Lebanon, Rabu, 5 Agustus 2020.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT - Sebuah laporan rinci dibuat oleh badan intelijen elite Lebanon, Information Branch, yang melaporkan pihak bertanggung jawab atas ledakan besar di pelabuhan Beirut Agustus lalu. Laporan setebal 350 halaman telah diserahkan ke kantor kejaksaan meski tidak dipublikasikan.

Laporan tersebut diselidiki oleh Information Branch itu sendiri. Penyelidikan ini sebelumnya juga telah dilakukan oleh polisi militer dan pengadilan negara beberapa hari usai ledakan terjadi.

Baca Juga

Information Branch adalah sayap intelijen Pasukan Keamanan Dalam Negeri Lebanon. Badan tersebut merupakan sebuah badan keamanan terkemuka yang telah memimpin penyelidikan atas pengeboman dan serangan sejak pembunuhan mantan Perdana Menteri Rafik Hariri pada 2005.

Salah satu sumber peradilan senior yang mengetahui laporan Information Branch, yang tidak menyebutkan jati dirinya, mengatakan kepada Aljazirah bahwa pihaknya menyalahkan otoritas pelabuhan Beirut dan Bea Cukai Lebanon. Kedua pihak dituding bersalah sebab meninggalkan sekitar 2.750 ton amonium nitrat yang sangat berpotensi meledak di Hangar 12 selama hampir tujuh tahun dalam kondisi tak aman.

Laporan juga membuat catatan khusus dari kepala bea cukai saat ini dan sebelumnya, Badri Daher dan Shafik Merhi. Catatan itu mengatakan mereka bisa bertindak sendiri untuk mengeluarkan bahan peledak dan dengan demikian mencegah ledakan.

Laporan tersebut kemudian mengeklaim pihak yang bertanggung jawab sekunder atas ledakan kepada pengacara negara yang dikenal sebagai Otoritas Kasus, direktorat transportasi darat dan laut di kementerian pekerjaan umum (bertugas mengawasi pelabuhan), serta Intelijen Angkatan Darat dan badan Keamanan Negara yang keduanya berkantor di pelabuhan.

"Sementara badan keamanan mengetahui tentang potensi bahaya menyimpan bahan peledak di pelabuhan Beirut, mereka tidak menghargai kenyataan bahwa nyawa mereka dalam bahaya," tulis kesimpulan laporan itu mengacu pada interogasi terhadap pegawai dan pejabat negara.

Petugas Keamanan Umum, tentara, dan Keamanan Negara termasuk di antara mereka yang tewas dalam ledakan Beirut Agustus lalu. Menurut laporan itu ledakan adalah akibat dari api yang dipicu oleh percikan api dari pekerjaan pengelasan di pintu besi.

Sekitar 25 pejabat pemerintahan dan keamanan tingkat rendah dan menengah telah ditahan sehubungan dengan ledakan tersebut. Sekitar 50 lainnya telah diinterogasi. Ledakan pada Agustus di Lebanon adalah salah satu ledakan non-nuklir terbesar dalam sejarah.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement