Selasa 17 Nov 2020 08:40 WIB

Obama: Hasil Pemilu Tunjukkan AS Terpecah Belah

Obama mengaku khawatir dengan terpecahnya pemilih AS.

Rep: Lintar Satria/ Red: Nur Aini
Mantan Presiden Barack Obama berbicara di Citizens Bank Park saat berkampanye untuk calon presiden dari Partai Demokrat, mantan Wakil Presiden Joe Biden, Rabu, 21 Oktober 2020, di Philadelphia.
Foto: AP/Matt Slocum
Mantan Presiden Barack Obama berbicara di Citizens Bank Park saat berkampanye untuk calon presiden dari Partai Demokrat, mantan Wakil Presiden Joe Biden, Rabu, 21 Oktober 2020, di Philadelphia.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama mengatakan hasil pemilu 3 November lalu menunjukkan pemilih masih terpecah menjadi dua kelompok. Masing-masing kandidat mendapatkan lebih dari 70 juta suara.

"Apa yang dikatakannya kami masih sangat terpecah belah, kekuatan pandangan dunia alternatif yang disajikan media yang dikonsumsi pemilih membawa beban berat," kata Obama saat diwawancara Gayle King untuk CBS Sunday Morning, seperti dikutip CNN, Selasa (17/11).

Baca Juga

King bertanya apakah hal itu membuatnya khawatir. Mantan presiden itu menjawab 'ya'. "Sangat sulit demokrasi kami berfungsi bila kami beroperasi hanya berdasarkan sejumlah fakta yang sepenuhnya berbeda," kata Obama.

Obama melakukan serangkaian wawancara sebelum buku biografinya yang berjudul 'A Promise Land' rilis pada 17 November. Buku tersebut berisi mengenai masa kecil dan awal karirnya di politik, sebelum kampanye pemilihan presiden 2008 dan empat tahun periode pertamanya di Gedung Putih.

Obama yang menjadi presiden kulit hitam pertama AS juga menyerang politik rasial Presiden Donald Trump. Obama mengatakan kemenangannya pada tahun 2008 membuka gelombang kegetiran dan perpecahan yang memicu obstruksi Partai Republik dan mengubah partai itu.

Obama juga membela keputusannya aktif berkampanye untuk mantan wakilnya Joe Biden. Ia mengatakan situasi yang membenarkan kritiknya terhadap penggantinya di Gedung Putih, sesuatu yang jarang dilakukan mantan presiden sebelumnya.

"Bukan preferensi saya untuk berada di luar sana, saya pikir kami dalam situasi pemilihan yang dalam norma tertentu, nilai institusional tertentu yang sangat penting telah dilanggar, ini penting bagi saya, sebagai seseorang yang mengabdi di sana untuk memberitahu masyarakat 'Ini bukan hal yang normal'," katanya.

Trump menolak mengakui kekalahan, tanpa memberikan bukti ia berulang kali mengklaim pemilihan presiden telah dicurangi. Ia mengajukan gugatan hukum atas hasil pemilihan ke sejumlah negara bagian.

Proses transisi resmi antara pemerintah Trump dan presiden terpilih Joe Biden tampaknya tertunda. Sebab, kepala lembaga federal yang memberikan anggaran untuk presiden berikutnya, General Services Administration yang ditunjuk Trump belum mengakui kemenangan Biden.

Dalam wawancara terpisah dengan Scott Pelley untuk acara 60 Minutes di stasiun televisi CBS, Obama menyerang pejabat Partai Republik yang mendukung klaim palsu Trump. Ia mengatakan tuduhan tersebut membahayakan demokrasi.

"Kami tidak akan menerima bila anak-anak kami sendiri bersikap seperti itu bila mereka kalah, kan? Maksud saya bila putri-putri saya, dalam kompetisi apa pun, merengus dan menuduh pihak lawan curang tanpa bukti saat mereka kalah, kami akan memarahi mereka," katanya.

Obama mengatakan jabatan presiden adalah pekerjaan sementara. "Ketika waktu Anda habis maka tugas Anda untuk mengutamakan negara dan berpikir di luar ego dan kepentingan Anda sendiri dan kekecewaan Anda sendiri," kata Obama.

"Nasihat saya pada presiden Trump adalah bila di tahap akhir ini Anda ingin dikenang sebagai orang yang mengutamakan negara maka waktunya Anda melakukan yang sama," tambahnya.

Saat membahas masa transisi damai dengan King, Obama mengatakan hal yang sama. "Ini pekerjaan sementara, kami tidak berada di atas peraturan, kami tidak di atas hukum, itu esensi dari demokrasi kami," katanya. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement