Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Saturday, 14 Zulhijjah 1442 / 24 July 2021

Beda Fatwa Arab Saudi Dulu dan Kini Soal Ikhwanul Muslimin

Jumat 13 Nov 2020 05:15 WIB

Rep: Alkhaledi Kurnialam/ Red: Nashih Nashrullah

Terdapat perbedaan fatwa ulama Arab Saudi dulu sikapi Ikhwanul Muslimin. Logo ikhwanul muslimin

Terdapat perbedaan fatwa ulama Arab Saudi dulu sikapi Ikhwanul Muslimin. Logo ikhwanul muslimin

Foto: tangkapan layar wikipedia.org
Terdapat perbedaan fatwa ulama Arab Saudi dulu sikapi Ikhwanul Muslimin.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Dewan Ulama Senior Arab Saudi menyatakan dalam fatwanya bawah Ikwanul Muslimin adalah organisasi yang sesat dari agama. Fatwa ini pun memicu kontroversi di kawasan Timur Tengah. 

Ternyata, fatwa tentang Ikhwanul Muslimin di Arab Saudi bukan kali pertama. Hanya saja, ada perbedaan yang mencolok. Mengutip kitab Fatwa Lajnah ad-Daimah Lil Buhuts wa Al-Fatwa, sebuah kitab kompilasi dari Komisi Fatwa dan Kajian dari Dewan Ulama Senior Arab Saudi, dalam fatwa nomor 6250 disebutkan sebagai berikut: 

أقرب الجماعات الإسلامية إلى الحق وأحرصها على تطبيقه: أهل السنة: وهم أهل الحديث، وجماعة أنصار السنة، ثم الإخوان المسلمون, وبالجملة فكل فرقة من هؤلاء وغيرهم فيها خطأ وصواب، فعليك بالتعاون معها فيما عندها من الصواب، واجتناب ما وقعت فيه من أخطاء، مع التناصح والتعاون على البر والتقوى. وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

"Kelompok Islam yang paling dekat dengan kebenaran dan paling konsisten mempraktikkannya dari Ahlussunnah Wal Jamaah adalah para ahli hadits, Jamah Anshar Sunnah, kemudian Ikhwanul Muslimin. Secara umum, setiap kelompok dari mereka ada benar dan salah, maka Anda harus bekerja sama selama mereka benar dan menjauh jika mereka salah, dengan tetap menasihati dan bekerja sama dalam kebaikan. Semoga Allah memberikan taufik dan shalawat bagi Nabi kita, Muhammad SAW.”

Fatwa ini ditandangani ketua Lajnah Ad-Daimah saat itu, yakni Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, wakil ketua Syekh Abdurrazzaq Afifi, dan anggota yang terdiri atas Abdullah bin Ghadyan dan Abdullah bin Qu’ud. 

Sementara itu, pada Rabu (11/11) lalu Dewan Ulama Senior Arab Saudi menyebut, Ikhwanul Muslimin adalah kelompok teroris dan tidak mewakili nilai-nilai Islam yang sebenarnya. Dewan yang diketuai Syekh bin Abdul Aziz bin Abdullah Alu as-Syaikh tersebut menggambarkan Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok sesat yang merusak hidup berdampingan di dalam negara. Kelompok ini dikatakan sering menimbulkan hasutan, kekerasan, dan terorisme. 

"Kelompok itu mengejar tujuan partisannya dalam upaya  merebut lebih banyak kekuasaan untuk dirinya sendiri dan melakukannya di bawah kedok agama," jelas Dewan Ulama Senior Arab Saudi dilansir Arabnews, Kamis (12/11).

Dikatakan bahwa sejarah organisasi atau kelompok tersebut berkaitan erat dengan kejahatan, perselisihan, ekstremisme, dan terorisme. Karena alasan tersebut, segala bentuk dukungan, termasuk dana, untuk Ikhwanul Muslimin dilarang, sesuai dengan ajaran Alquran dan Sunnah.  

Dewan juga menambahkan bahwa Ikhwanul Muslimin adalah kelompok menyimpang yang mendorong pemberontakan melawan para penguasa. Tindakan Ikhwanul Muslim juga dituding sering mendatangkan malapetaka di negara-negara bagian dan menggoyahkan hidup berdampingan secara damai.   

Para ulama menuturkan, sejak pembentukannya, kelompok tersebut tidak pernah menunjukkan rasa hormat terhadap akidah Islam atau pengetahuan yang terkandung dalam Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.   

Tujuan organisasi ini disebut hanya untuk merebut kendali kekuasaan. Para Ulama Saudi menyimpulkan Ikhwanul Muslimin selama ini penuh dengan kejahatan yang menjadi tanggung jawabnya. Sejarah tersebut akhirnya juga menginspirasi pembentukan banyak kelompok ekstremis dan teroris yang bertanggung jawab atas kekejaman di seluruh dunia.  

"Dewan mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap Ikhwan dan kegiatannya, dan memperingatkan mereka untuk tidak bergabung, mendukung atau terlibat dengan kegiatannya," jelas Dewan Ulama Senior Arab Saudi itu. 

Arab Saudi memasukkan Ikhwanul Muslimin ke dalam daftar hitam sebagai organisasi teroris pada Mei 2014, dalam dekret kerajaan, bersama dengan tiga kelompok Islam lainnya yang berbasis di Timur Tengah. Keputusan tersebut berimbas pada larangan bergabung dalam keanggotaannya dengan segala bentuk dukungan atau simpati kepada mereka yang diungkapkan melalui pidato atau tulisan.  

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA