Tuesday, 3 Jumadil Awwal 1443 / 07 December 2021

Tuesday, 3 Jumadil Awwal 1443 / 07 December 2021

Apa yang Terjadi Ketika Tubuh Mengalami Hipertensi?

Kamis 12 Nov 2020 21:32 WIB

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Reiny Dwinanda

Berdasarkan prevalensi hipertensi pada 2018, hipertensi pada kelompok umur 31-44 tahun mencapai 31,6 persen.

Berdasarkan prevalensi hipertensi pada 2018, hipertensi pada kelompok umur 31-44 tahun mencapai 31,6 persen.

Foto: iStockPhoto
Hipertensi sering disebut pembunuh senyap karena pengidapnya tak rasakan gejala.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak orang tidak mengetahui bahwa dirinya telah mengidap tekanan darah tinggi karena tidak adanya gejala. Oleh karenanya hipertensi sering disebut sebagai pembunuh senyap alias silent killer.

Sekitar 26 persen populasi dunia atau sekitar 972 juta orang pada tahun 2000, mengidap hipertensi. Prevalensinya diperkirakan akan meningkat menjadi 29 persen pada 2025.

Baca Juga

Di Indonesia, prevalensi hipertensi pada tahun 2018 berdasarkan hasil pengukuran pada penduduk usia lebih dari 18 tahun, jumlahnya sebesar 34,1 persen. Estimasi jumlah kasus hipertensi di Indonesia sebanyak 63.309.620 orang, sedangkan angka kematian akibat hipertensi sebesar 427.218 kematian.

Hipertensi terjadi pada kelompok umur 31-44 tahun (31,6 persen), umur 45-54 tahun (45,3 persen), umur 55-64 tahun (55,2 persen). Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan faktor risiko terhadap kerusakan organ penting seperti otak, jantung, ginjal, mata, pembuluh darah besar (aorta), dan pembuluh darah tepi.

Salah satu risiko yang harus diwaspadai adalah terjadinya gagal jantung yang berujung pada kematian. Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah RS Jantung Harapan Kita, Dr. BRM Ario Soeryo Kuncoro, Sp.JP(K) menjelaskan, gagal jantung merupakan kondisi kronis dan progresif jangka panjang, yang cenderung memburuk secara bertahap yang disebabkan oleh hipertensi.

Hipertensi menyebabkan pembuluh darah menyempit dan mengakibatkan beban kerja jantung bertambah berat. Penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah yang disebabkan oleh hipertensi tersebut akan menyebabkan dinding ruang pompa jantung menebal (left ventricular hypertrophy).

"Dalam jangka panjang akan meningkatkan risiko gagal jantung,” papar Dr. Ario dalam sesi bincang-bincang virtual, Kamis (12/11).

Untuk memompa darah melawan tekanan yang lebih tinggi di pembuluh, jantung harus bekerja lebih keras sehingga terjadi penyempitan arteri dan darah lebih sulit mengalir dengan lancar ke seluruh tubuh. Dengan demikian, hipertensi membuat kerja jantung menjadi berlebihan untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan oksigen dan nutrisi, sehingga pada akhirnya jatuh ke kondisi gagal jantung.

Seseorang dikatakan menderita hipertensi apabila memiliki tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg. Artinya, bila tekanan darah mencapai angka 140/90 itu saat periksa di rumah sakit atau klinik, maka itu sudah hipertensi.

Sementara itu, saat melakukan pengecekan tekanan darah di rumah dengan menggunakan peranti home blood pressure monitoring (HBPM), ambang batasnya 135/85. Sebab, kalau periksa di rumah, orang cenderung lebih tenang dan tidak melibatkan emosi.

“Jadi memang ini merupakan acuan kita, untuk melihat dan menjelaskan, bahwa tekanan darah sifatnya fluktuatif. Kalau tekanan darah kita tinggi pada saat datang ke fasilitas kesehatan, belum tentu hipertensi. Karena mungkin tegang melihat rumah sakit atau kliniknya, jadi pastikan cek di rumah,” kata Dr. Ario seraya menggulirkan Gerakan Peduli Hipertensi.

Mengelola hipertensi

Hipertensi dapat dikelola dengan baik agar mencapai tekanan darah yang sesuai target, yaitu dengan mengatur pola hidup. Caranya ialah dengan membatasi konsumsi garam, perubahan pola makan, penurunan berat badan dan menjaga berat badan ideal, olahraga teratur, dan berhenti merokok.

Kepatuhan dalam menjalani pengobatan serta pengukuran tekanan darah secara benar dan berkala juga dapat membantu mengelola hipertensi, termasuk selama pandemi Covid-19. Pasien jantung harus mengelola hipertensinya dengan baik agar tidak terjadi gagal jantung dan kematian.

Sesuai dengan konsensus penatalaksanaan hipertensi, dokter akan merekomendasikan pemakaian obat pengendali darah tinggi secara kombinasi sejak awal pengobatan demi mencapai tekanan darah sesuai target. Beberapa jenis obat pengendali tekanan darah, yaitu golongan calcium channel blocker (CCB), diuretik, penyekat beta (beta blocker), penyekat alfa (alpha blocker), anti Converting enzyme inhibitor (ACE inhibitor), angiotensinogen receptor blocker (ARB), central blocker, aldosteron antagonist, dan lain-lain.

Konsensus Perhimpunan Dokter Hipertensi Indonesia (InaSH) menunjukkan, beberapa golongan obat dapat menjadi pilihan pertama, seperti golongan CCB, ACEi / ARB, dan diuretik. Namun, obat yang ideal adalah bukan hanya mencapai target yang diinginkan, tetapi juga mempertahankan stabilitas tekanan darah dalam waktu 24 jam.

Pengelolaan tekanan darah 24 jam sangat penting dalam mengurangi risiko kardiovaskular. Peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik di pagi hari, akan meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular.

Untuk itu, penting bagi pasien hipertensi maupun keluarganya, melakukan lima langkah mudah untuk manajemen hipertensi. Pertama, ketahui target tekanan darah. Kedua, konsultasikan dengan dokter untuk menentukan target tekanan darah. Ketiga, terapkan gaya hidup sehat. Keempat, selalu cek tekanan darah di rumah. Kelima, minum obat antihipertensi secara teratur sesuai aturan dokter.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA