Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

5 Bentuk Malu yang Dicontohkan Salaf, Wahsyi Hingga Ali

Kamis 12 Nov 2020 07:22 WIB

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Nashih Nashrullah

Terdapat 5 bentuk malu yang dicontohkan para generasi salaf. Ilustrasi malu

Terdapat 5 bentuk malu yang dicontohkan para generasi salaf. Ilustrasi malu

Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Terdapat 5 bentuk malu yang dicontohkan para generasi salaf

REPUBLIKA.CO.ID,  JAKARTA – Setiap Muslim harus memiliki sifat malu karena malu merupakan salah satu akhlak mulia. Rasulullah SAW pun menganjurkan umatnya untuk memiliki rasa malu. 

Rasa malu itu beragam jenisnya. Menurut Ibnul Qayyim, malu dibagi menjadi lima jenis.

Baca Juga

Pembagian ini sebagaimana dikutip dari buku Ensiklopedi Akhlak Rasulullah Jilid 2 karya Syekh Muhammad Al-Mishri. Kelima kategori malu itu adalah sebagai berikut: 

1. Malu bertindak jahat

Hal ini seperti yang dilakukan Wahsyi, pembunuh Hamzah ketika ia bertemu dengan Rasulullah. Ia berkata: 

فَكُنْتُ أَبْتَعِدُ عنْ طَرِيقِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم حيثُ كَانْ، كَيْ لا يَرَانِي حتَّى قَبَضَهُ اللهُ إلَيْهِ

“Aku selalu menghindar dari Rasulullah di mana pun beliau berada, agar beliau tidak melihatku hingga Allah memanggilnya.” (HR Al-Bukhari).

2. Malu karena merasa lemah

Malu seperti ini adalah malu yang dicontohkan para malaikat yang selalu bertasbih siang dan malam tanpa merasa bosan. Saat Hari Kiamat datang, mereka akan berkata, “Mahasuci Engkau, wahai Tuhan, kami tidaklah beribadah kepada-Mu dengan benar.”

3. Malu karena penghormatan

Malu jenis ini disebut juga malu karena makrifat terhadap Allah SWT. Hal ini bermakna sejauh mana makrifat seseorang terhadap Tuhannya, sejauh itu pula dia akan malu kepada-Nya. Salah satu contohnya adalah malunya Amru bin Al-Ash. 

Hal itu terbukti dia berkata, “Demi Allah, dulu orang yang paling aku benci adalah Rasulullah SAW. Namun, ketika aku memeluk Islam, tidak ada seorang pun yang lebih aku cintai daripada beliau. Tidak ada seorang pun yang lebih terhormat di mataku kecuali beliau. Seandainya aku diminta untuk menggambarkan tentang beliau kepada kalian, niscaya aku tidak akan mampu melakukannya. Sebab, aku tak pernah memandang beliau dengan sepenuh mata lantaran aku malu kepada beliau.” (HR Ahmad 17326).

4. Malu karena segan

نْ عَلِي رضي الله عنه، قَالَ: كُنْتُ رَجُلاً مَذَّاءً وَكُنْتُ اسْتَحْيِي أَنْ أَسْأَلَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم لِمَكَانِ ابْنَتِهِ، فَأَمَرْتُ الْمِقْدَادَ بْنَ الأَسْوَدِ. فَسَأَلَهُ فَقَالَ: "يَغْسِلُ ذَكَرَهُ، وَيَتَوَضَّأُ"

Ali meriwayatkan, ia berkata, “Aku laki-laki yang sering mengeluarkan madzi. Aku meminta Miqdad untuk menanyakan hal itu kepada Nabi. Dia pun bertanya kepada beliau. Nabi SAW menjawab, “Cukup dengan wudhu.” (HR Bukhari 132 Bab Al-‘Ilm).

5. Malu kepada diri sendiri

Rasa malu seseorang kepada dirinya sendiri adalah rasa malu dari jiwa yang mulia dan agung. Rasa ini juga muncul karena kerelaannya terhadap kelalaian yang dilakukannya. 

Orang seperti ini, jiwanya merasa malu kepada jiwanya sendiri sehingga seolah-olah dia memiliki dua jiwa di mana salah satunya merasa malu kepada yang lainnya. 

Inilah rasa malu yang paling sempurna. Jika seorang hamba merasa malu kepada dirinya, rasa malunya kepada orang lain akan jauh lebih besar.” (Madarij As-Salikin (2/272-274).

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA