Friday, 4 Ramadhan 1442 / 16 April 2021

Friday, 4 Ramadhan 1442 / 16 April 2021

Biden Tetap Maju Walaupun Ditahan Trump

Rabu 11 Nov 2020 13:45 WIB

Rep: Lintar Satria/ Red: Christiyaningsih

 Presiden terpilih Joe Biden tiba untuk berbicara pada Senin, 9 November 2020, di teater The Queen di Wilmington, Del.

Presiden terpilih Joe Biden tiba untuk berbicara pada Senin, 9 November 2020, di teater The Queen di Wilmington, Del.

Foto: AP/Carolyn Kaster
Biden menilai perlawanan Trump yang tidak menerima hasil pemilu sebagai tidak penting

REPUBLIKA.CO.ID, WILMINGTON -- Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Joe Biden berjanji 'untuk mendapatkan hak untuk bekerja'. Ia menilai perlawanan keras dari Donald Trump untuk menerima hasil pemilu sebagai 'tidak penting' walaupun sejumlah anggota Partai Demokrat memperingatkan tindakan Trump berbahaya.

Selain terus menyakinkan masyarakat pemilihan presiden pekan lalu dicurangi, Trump menghalangi presiden AS berikutnya mendapat informasi intelijen dan dana federal untuk memfasilitasi penyerahan kekuasaan.

Perlawanan Trump yang didukung politisi senior Partai Republik di Washington dan di seluruh negeri juga dapat mencegah penyelidikan latar belakang dan pemeriksaan keamanan bagi calon staf Gedung Putih. Trump juga menahan akses pegawai badan federal untuk membahas rencana penyerahan kekuasaan.  

Sebagian politisi Partai Demokrat dan mantan politisi Partai Republik memperingatkan hal ini dapat menimbulkan konsekuensi yang serius. Saat berbicara dengan wartawan markas transisi di Wilmington pada Selasa (10/11) kemarin, Biden berusaha menurunkan ketegangan.

Ia menggambarkan posisi Trump 'memalukan' untuk menandai warisan masa jabatannya presidennya. Biden juga memprediksi Partai Republik di Capitol Hill akan menerima realitas kemenangannya.

"(Perlawanan Partai Republik) sama sekali tidak mengubah dinamika yang coba kami lakukan," kata Biden.

Ia mengatakan informasi intelijen 'akan membantu' tapi ia menambahkan. "Kami tidak melihat ada yang dapat memperlambat kami," katanya.

Biden yang bersiap menghadapi krisis-krisis nasional yang mengancam kesehatan, keamanan, dan ekonomi jutaan rakyat Amerika melontarkan komentar-komentar terukur. Infeksi virus corona, pasien yang masuk rumah sakit, dan kasus kematian terkait virus corona melonjak tajam.

Sementara perekonomian menghadapi kemungkinan dampak jangka panjang, di sisi lain Negeri Paman Sam masih menghadapi perpecahan politik dan budaya yang kian memburuk. Biden yakin pendekatannya yang sederhana dan bipartisan akan membantunya memerintah secara efektif sejak hari pertama.

Ini aangat berbeda dengan pendekat pemerintahan Trump. Namun 71 hari sebelum pelatikannya, Trump dan sekutu-sekutunya sudah membuat masa transisi Biden sesulit mungkin.

Melalui akun Twitternya, Trump kembali mengklaim ada 'kecurangan penghitungan suara skala besar'. Ia mengaku menang meski sudah dinyatakan kalah. Sekutu-sekutunya di Capitol Hill yang dipimpin Ketua Senat Mitch McConnell telah mendukung klaim tanpa dasar Trump.

Baca Juga

sumber : AP
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA