Sunday, 6 Ramadhan 1442 / 18 April 2021

Sunday, 6 Ramadhan 1442 / 18 April 2021

Dompet Dhuafa-UNHCR Bersinergi Tangani Pengungsi Muslim

Selasa 10 Nov 2020 18:03 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Gita Amanda

Sejumlah pengungsi etnis Rohingya duduk di dalam bus saat tiba di tempat penampungan, di Aceh, (ilustrasi).

Sejumlah pengungsi etnis Rohingya duduk di dalam bus saat tiba di tempat penampungan, di Aceh, (ilustrasi).

Foto: ANTARA /RAHMAD
Sekitar 60 persen pengungsi secara global berasal dari negara-negara Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga Filantropi, Dompet Dhuafa (DD) dan Badan Urusan PBB Untuk Urusan Pengungsi, United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) bekerja sama untuk memberikan bantuan bagi pengungsi Muslim lewat program Kerja sama Strategis DD-UNHCR pada Selasa (10/11).

"Sinergi dengan United Nations High Commision for Refugees tentunya sangat penting terutama dalam menangani beberapa permasalahan sosial di masyarakat. Sebagai contoh masalah pengungsian, dengan sinergi kita bisa meminimalisir kekurangan sumber daya. Karena semua institusi  bersatu dan bersinergi dalam menangani kasus ini. Selain itu, dengan sinergi kita juga bisa memberikan kepedulian yang maksimal di bidang pendidikan dan kesehatan bagi para pengungsi," kata Direktur Fundraising Dompet Dhuafa, Doni Marlan, dalam keterangan tertulisnya kepada Republika pada Selasa.

Berdasarkan data UNHCR hingga Oktober 2020, terdapat 13.745 pengungsi dan pencari suaka yang terdaftar dari sekitar 40 negara di badan pengungsi PBB. Mereka tinggal di beberapa kota di Indonesia seperti Aceh, Medan Tanjung Pinang, Pekanbaru, Jakarta dan Jabodetabek, Surabaya, Balikpapan, Medan, Manado, Kupang dan lokasi lainnya.

Para pengungsi mencari keselamatan dan perlindungan internasional di negara-negara suaka seperti Indonesia atau di negara tujuan lainnya. Saat ini dunia telah menyaksikan krisis pengungsi terburuk sepanjang sejarah dengan 79,5 juta orang mengungsi. Diperkirakan  jumlah pengungsi akan terus meningkat di masa mendatang.

Sekitar 60 persen pengungsi secara global berasal dari negara-negara Islam, dan mereka telah memenuhi persyaratan untuk menerima dana ZIS.  Atas dasar ini, UNHCR memulai Filantropi Islam sejak 2013 dan inisiatif tersebut berkembang pesat secara global.

Sinergi Dompet Dhuafa dengan UNHCR membuka pintu kebaikan yang lebih luas, dan diharapkan dapat menciptakan potensi manfaat baru bagi banyak pihak dalam jangka panjang.

Perwakilan UNHCR  untuk Indonesia, Ann Maymann, mengungkapkan tahun depan pandemi Covid-19 kemungkinan masih akan berlangsung sehingga ini menjadi tantangan bagi semua manusia. UNHCR berharap kerja sama ini akan menghasilkan peningkatan perlindungan pengungsi, baik di Indonesia maupun secara global.  

"Kami dengan senang hati memulai perjalanan baru yang menjanjikan ini bersama Dompet Dhuafa, dan kami berharap melalui kolaborasi ini, solusi yang lebih komprehensif dapat ditemukan sebagai bagian dari tujuan kami untuk memperkuat perlindungan pengungsi dan menemukan solusi jangka panjang," kata Ann Maymann.

Adapun Dompet Dhuafa dan UNHCR mulai bekerja dalam berbagai kerja sama dari 2015, antara lain di bidang pendidikan, kesehatan dan program pemberdayaan pengungsi dan pembangunan.  Selain itu Dompet Dhuafa memberikan bantuan kepada keluarga Indonesia di daerah terpencil untuk memperoleh akta kelahiran bagi anak-anaknya dengan mudah, sejalan dengan amanat UNHCR untuk mencegah keadaan tanpa kewarganegaraan.

"Dompet Dhuafa harus aktif, karena kemanusiaan tidak bisa datang dari warga kita sendiri, tapi siapapun yang memiliki masalah kemanusiaan kita bisa memusatkannya. Dengan UNHCR kita bisa berkarya lebih luas, tidak hanya di Indonesia, tapi di beberapa negara maju. Tadi kita berdiskusi dengan UNHCR  kami sedang merencanakan beberapa pekerjaan kemanusiaan di beberapa negara lain," kata Ketua Yayasan Dompet Dhuafa, Nasyith Majidi.

Di samping itu, UNHCR telah memainkan peran strategis sebagai mitra penyalur terpercaya dana-dana filantropi Islam di berbagai negara. Mereka memiliki enam fatwa dari lembaga dan ulama terkemuka dari Mesir, Yaman, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Maroko. Ini memiliki tim yang kredibel yang dapat mengidentifikasi penerima dana filantropi Islam yang memenuhi syarat menurut Alquran dan Sunnah. 

UNHCR telah mendistribusikan lebih dari 50 juta dolar Amerika Serikat dalam bentuk filantropi Islam untuk mendukung operasi UNHCR termasuk di Yaman, Bangladesh, Pakistan dan lainnya. Semua sumbangan didistribusikan melalui bank syariah, yang bebas bunga.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA