Wednesday, 7 Jumadil Akhir 1442 / 20 January 2021

Wednesday, 7 Jumadil Akhir 1442 / 20 January 2021

BS Center Proyeksikan Ekonomi Indonesia 2021 2,41 Persen

Selasa 10 Nov 2020 17:30 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolandha

Warga berjalan di dekat permukiman padat penduduk di Jakarta, Rabu (14/10/2020). Lembaga riset dan kajian independen Brain Society (BS) Center memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan dapat tumbuh pada level 2,41 persen. Tapi, dalam skenario terburuk, ekonomi hanya mampu tumbuh di level 1,29 persen.

Warga berjalan di dekat permukiman padat penduduk di Jakarta, Rabu (14/10/2020). Lembaga riset dan kajian independen Brain Society (BS) Center memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan dapat tumbuh pada level 2,41 persen. Tapi, dalam skenario terburuk, ekonomi hanya mampu tumbuh di level 1,29 persen.

Foto: Aprillio Akbar/ANTARA
Dalam skenario terburuk, ekonomi tahun depan diprediksi hanya 1,29 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga riset dan kajian independen Brain Society (BS) Center memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun depan dapat tumbuh pada level 2,41 persen. Tapi, dalam skenario terburuk, ekonomi hanya mampu tumbuh di level 1,29 persen. Prediksi ini jauh di bawah target pemerintah dalam APBN 2021, yaitu lima persen.

Ketua Dewan Pakar BS Center Didin Damanhuri menjelaskan, realisasi dari proyeksi tersebut sangat bergantung pada keberhasilan vaksin. "Salah satu faktornya, tingkat keberhasilan vaksin sebesar 60 persen," ujarnya dalam seri diskusi di peluncuran BS Center di Jakarta, Selasa (10/11).

Selain itu, Didin menambahkan, proyeksi itu juga mengasumsikan, harga untuk vaksin adalah Rp 2 juta atau 133 dolar AS per dosis. Sementara, pengeluaran per penduduk Indonesia rata-rata untuk kesehatan mencapai 114 dolar AS tiap tahun.

Baca Juga

Didin mengatakan, proyeksi yang dihitung BS Center menggunakan logika, vaksin akan berpengaruh terhadap variabel kunci. Misalnya, tingkat simpanan masyarakat, produktivitas ekonomi, konsumsi rumah tangga dan mengarah terhadap penciptaan laju Produk Domestik Bruto (PDB).

Dari asumsi vaksinasi dan pertumbuhan ekonomi, Didin menekankan, variabel keberpihakan pemerintah terhadap alokasi anggaran vaksin Covid-19 menjadi kunci utama. "Tanpa adanya anggaran pemerintah yang memadai, tampaknya sulit bagi vaksinasi dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat, terutama mereka yang rentan," tuturnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA