Monday, 17 Rajab 1442 / 01 March 2021

Monday, 17 Rajab 1442 / 01 March 2021

Sejumlah Tekanan Terhadap Muslim Prancis Satu Bulan Terakhir

Selasa 10 Nov 2020 05:44 WIB

Rep: Meiliza Laveda / Rossi Handayani/ Red: Muhammad Hafil

Sejumlah Tekanan Terhadap Muslim Prancis Satu Bulan Terakhir. Foto ilustrasi: Sekelompok wanita berunjuk rasa di Prancis menuntut dihentikannya Islamofobia.

Sejumlah Tekanan Terhadap Muslim Prancis Satu Bulan Terakhir. Foto ilustrasi: Sekelompok wanita berunjuk rasa di Prancis menuntut dihentikannya Islamofobia.

Foto: Christophe Petit/EPA
Prancis menegaskan negaranya menghormati Muslim.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS – Tekanan terhadap Muslim di Prancis termasuk organisasi Islam dan masyarakat sipil terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir sejak pemerintah mengumumkan perjuangannya melawan "separatisme Islam". Berawal dari 1 September lalu, majalah Prancis Charlie Hebdo menerbitkan ulang kartun-kartun yang menghina Nabi Muhammad SAW menjelang persidangan pada serangan 2015 di kantor mereka.

Kurang dari sebulan kemudian, dua orang terluka dalam serangan yang terjadi di dekat bekas kantor Charlie Hebdo. Serangan pada 25 September diikuti oleh pidato kontroversial Presiden Prancis Emmanuel Macron pada 2 Oktober, di mana ia mengumumkan rencana untuk mengatasi "separatisme Islam" dan menata kembali Islam di Prancis.

Pemerintah di Prancis segera memulai operasi melawan organisasi dan tempat ibadah Islam atas nama memerangi radikalisme. Tekanan terhadap umat Islam di negara itu semakin meningkat setelah Samuel Patty, seorang guru Prancis yang menunjukkan kartun Nabi Muhammad dibunuh pada 16 Oktober.

Dalam pembelaan mereka, Macron mengatakan Prancis tidak akan melepaskan kartun tersebut setelah insiden tragis Patty. Ucapannya memicu kemarahan di dunia Muslim dengan banyak yang menyerukan boikot produk Prancis. Kartun provokatif tersebut juga diproyeksikan di beberapa hotel dan gedung resmi di kota Montpellier, Toulouse, dan Beziers. Berikut ini adalah sejumlah tekanan yang diterima Muslim Prancis dalam beberapa pekan terakhir.

Islamofobia di Prancis

Polisi Prancis menggerebek rumah tokoh Muslim terkemuka setelah pembunuhan brutal Samuel Paty. Perintah deportasi dikeluarkan untuk 200 orang dan lebih dari 50 asosiasi dan organisasi Islam sedang diselidiki.

Beberapa organisasi, seperti Collective against Islamophobia in France (CCIF) dan Barakacity dibubarkan. Langkah-langkah pemerintah tampaknya semakin memicu Islamofobia di masyarakat Prancis. Lalu pada 18 Oktober, dua wanita Muslim asal Aljazair ditikam di dekat Menara Eiffel di Paris.

Dua hari kemudian, di kota Nimes, seorang wanita yang diduga mengalami kekerasan dalam rumah tangga dari suaminya menelepon polisi untuk melaporkan suaminya yang beragama Katolik sebagai seorang yang radikal.

Ketegangan terhadap Muslim terus berlanjut saat dua warga negara Yordania diserang karena berbicara bahasa Arab pada 22 Oktober di kota Angers.

Siswa dan masjid juga menjadi sasaran

Di kota Blois, seorang warga negara Chechnya berusia 22 tahun ditahan karena menyukai foto pembunuhan guru Prancis di media sosial. Selanjutnya di selatan Prancis, seorang siswa Afghanistan berusia 14 tahun dilaporkan ke polisi Marseille oleh gurunya karena menyambut pembunuhan Paty. Tujuh keluhan serupa lainnya dilaporkan di wilayah yang sama.

Pekan lalu di Albertville, tenggara Prancis, empat anak sekolah dasar diteror selama lebih dari 11 jam dalam penahanan polisi atas tuduhan palsu yang membenarkan terorisme. Sebuah pesan ancaman dikirim ke sebuah masjid di bawah National Vision of The Islamic Society (CIMG) di Chateaudun, Prancis.”Perang telah dimulai, kami akan mengusir anda dari negara kami,” tulis pesan itu, dilansir Anadolu Agency, Senin (9/11).

Politikus Prancis dan Islamofobia

Menteri Ekonomi Prancis, Bruno Le Maire menuduh beberapa kota telah menyerah pada ide politik Islam karena mengizinkan sesi pribadi untuk wanita di kolam renang. Sementara itu, Menteri Dalam Negeri, Geral Darmanin penolakan pada dokter atau guru lawan jenis akan didenda berdasarkan undang-undang baru yang menentang "separatisme Islam".

Sedangkan Jurnalis feminis Prancis, Elisabeth Levy menyarankan umat Islam yang mengenakan jilbab melepas penutup rambut mereka selama beberapa hari untuk menghormati ingatan tentang guru yang terbunuh.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian menegaskan negaranya sangat menghormati Islam selama kunjungan ke Kairo pada Ahad (8/11). Pernyataan ini muncul ketika negara tersebut menghadapi perselisihan dengan dunia Muslim akibat penerbitan karikatur Nabi Muhammad SAW.

Le Drian mengatakan kampanye "anti-Prancis" di dunia Muslim sering kali merupakan hasil dari distorsi komentar Presiden Prancis, Emmanuel Macron, tentang masalah tersebut. Dia menyatakan penghormatan tertinggi terhadap Islam merupakan prinsip pertama di Prancis.

“Saya juga ingin mengatakan bahwa Muslim adalah bagian penuh dari masyarakat di Prancis," kata Le Drian.

“Pesan kedua adalah bahwa kita dihadapkan pada ancaman terorisme, fanatisme, di tanah kita tetapi juga di tempat lain, dan pertempuran ini adalah pertempuran bersama," kata Le Drian.

Le Drian bertemu dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi dan Menteri Luar Negeri Sameh Shoukry dalam kunjungan itu. Setelah itu dia melakukan perbincangan terbuka dengan kepala institusi Al-Azhar, Sheikh Ahmed al-Tayeb.

Sumber:

Baca Juga

https://www.aa.com.tr/en/europe/french-government-increases-pressure-on-muslims/2037247

http://english.ahram.org.eg/NewsContent/1/64/391332/Egypt/Politics-/During-visit-to-Egypt,-French-FM-stresses-Frances-.aspx

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA