Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

Pembiayaan Bermasalah Multifinance Hampir Tembus 5 Persen

Senin 09 Nov 2020 14:59 WIB

Rep: Novita Intan/ Red: Friska Yolandha

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan bermasalah atau non performing financing (NPF) perusahaan pembiayaan atau multifinance sebesar 4,93 persen pada kuartal tiga 2020.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan bermasalah atau non performing financing (NPF) perusahaan pembiayaan atau multifinance sebesar 4,93 persen pada kuartal tiga 2020.

Foto: Republika/Thoudy Badai
Realisasi pembiayaan bermasalah mengalami perbaikan dibandingkan Juli 5,6 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan bermasalah atau non performing financing (NPF) perusahaan pembiayaan atau multifinance sebesar 4,93 persen pada kuartal tiga 2020. Adapun realisasi pencapaian ini membaik dibandingkan Juli 2020 sebesar 5,60 persen. 

Kemudian memasuki Agustus-September 2020, NPF mulai membaik seiring dengan pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Meskipun jauh dari NPF normal pada kisaran 2,4 persen sampai 2,6 persen.

Baca Juga

Penurunan pembiayaan bermasalah juga sejalan dengan piutang pembiayaan multifinance sebesar 14,36 persen menjadi Rp 386,30 triliun pada kuartal tiga 2020. Adapun piutang pembiayaan multifinance mulai turun sejak April hingga September 2020. 

Tercatat pembiayaan masih ditopang dari lini multiguna sebesar Rp 231,24 triliun atau menurun 15,04 persen, lini pembiayaan investasi sebesar Rp 118,94 triliun atau turun 15,29 persen, pembiayaan modal kerja terkoreksi 6,34 persen menjadi Rp 23,42 triliun. 

Kemudian lini pembiayaan berbasis syariah menurun 24,65 persen menjadi Rp 12,52 triliun. 

Adapun penurunan kinerja piutang pembiayaan multifinance itu juga tercermin dari kinerja sejumlah pemain. PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) mencatatkan penyaluran pembiayaan baru sebesar Rp 13,3 triliun atau turun 53 pada kuartal III 2020.

“Penurunan penyaluran pembiayaan baru ini sejalan dengan lemahnya kinerja penjualan industri otomotif akibat kontraksi ekonomi dalam enam bulan terakhir. Dengan demikian total piutang yang dikelola kami mengalami penurunan sebesar 14 persen menjadi Rp 46,1 triliun hingga akhir September 2020,” kata Presiden Direktur Adira Finance Hafid Hadeli dalam keterangan resmi, Senin (9/11).

Secara keseluruhan, Adira Finance telah menyalurkan pembiayaan baru sepeda motor sebesar Rp 6 triliun. Pembiayaan itu terdiri atas pembiayaan untuk sepeda motor baru Rp 4,9 triliun dan sepeda motor bekas Rp 1,1 triliun. 

Penyaluran pembiayaan mobil sebesar 4,9 triliun terdiri atas pembiayaan mobil baru Rp 2,9 triliun dan Rp 2 triliun merupakan pembiayaan mobil bekas. Sedangkan penyaluran pembiayaan non-automotive sebesar Rp 2,4 triliun hingga akhir September 2020. 

PT BFI Finance Indonesia Tbk berupaya menjaga kecukupan pencadangan piutang yang diragukan di atas kondisi normal. Adapun nilai cadangan sebesar 6,5 persen dari total piutang pembiayaan atau setara 2,4 kali dari total NPF, meningkat dari 1,6 kali pada kuartal sebelumnya. 

“Kecukupan pencadangan kerugian yang ada menunjukkan kehati-hatian perusahaan dalam pengelolaan risiko pembiayaan dan risiko keuangan yang prudent di tengah pandemi Covid-19 dan kondisi ekonomi yang belum pulih saat ini,” ujar Finance Director BFI Finance Indonesia.

Tercatat rasio NPF membaik menjadi 2,67 persen per kuartal tiga 2020 dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 3,73 persen. Tren rasio masih di bawah rata-rata industri pembiayaan pada Agustus 2020 sebesar 5,23 persen.

Kemudian piutang pembiayaan bersih senilai Rp 13,52 triliun atau anjlok 22,17 persen. Komposisi piutang pembiayaan yang dikelola sebesar 71,2 persen didominasi oleh pembiayaan mobil bekas. Sedangkan posisi piutang pembiayaan lainnya terdiri atas alat berat dan mesin 14,3 persen, motor bekas 9,9 persen, serta diikuti oleh mobil baru, property backed financing (PBF), dan syariah 4,6 persen

“Perusahaan kembali membuka layanan pembiayaannya pada semua lini produk mulai kuartal III 2020, sehingga diharapkan penyaluran pembiayaan mulai merambat naik dan rasio pembiayaan bermasalah sudah terkendali dengan berbagai inisiatif yang dijalankan perusahaan selama pandemi Covid-19,” ucapnya.

PT Mandiri Tunas Finance menyatakan perusahaan bersikap selektif dan hati-hati dalam menjalankan penyaluran pembiayaan kendaraan bermotor pada masa krisis. Tercatat pada kuartal tiga 2020 perusahaan menyalurkan pembiayaan baru sebesar Rp 12,3 triliun. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA