Wednesday, 7 Jumadil Akhir 1442 / 20 January 2021

Wednesday, 7 Jumadil Akhir 1442 / 20 January 2021

Baik untuk Jantung, Apa Itu Makanan Antiinfalamsi?

Jumat 06 Nov 2020 05:58 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Nora Azizah

Sebagian makanan dinilai memiliki sifat antiinflamasi (Foto: ilustrasi)

Sebagian makanan dinilai memiliki sifat antiinflamasi (Foto: ilustrasi)

Foto: www.freepik.com
Sebagian makanan dinilai memiliki sifat antiinflamasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagian makanan dinilai memiliki sifat antiinflamasi. Konsumsi makanan jenis ini dinilai dapat memberi dampak positif bagi kesehatan jantung.

Di sisi lain, ada pula makanan-makanan yang dinilai memiliki potensi inflamasi lebih tinggi. Beberapa di antaranya adalah daging merah, daging olahan, dan karbohidrat olahan.

Studi dalam Journal of the American College of Cardiology mengungkapkan bahwa mengonsumsi makanan seperti ini dalam jumlah banyak dapat meningkatkan risiko penyakit jantung sebesar 46 persen. Selain itu, banyak mengonsumsi makann dengan potensi inflamasi yang lebih tinggi juga dapat meningkatkan risiko strok sebesar 28 persen.

Hal ini dapat terjadi karena inflamasi mendorong terjadinya perubahan pada pembuluh darah. Perubahan ini dapat memicu terbentuknya aterosklerosis atau penumpukan kolesterol, lemak, kalsium, dan zat lain di dalam pembuluh darah.

"Pola makan (diet) dapat membantu," ujar ketua tim peneliti Dr Jun Li dari Harvard TH Chan School of Public Health, seperti dilansir Today, Kamis (5/11).

Untuk menghindari risiko ini, Dr Li menyarankan masyarakat untuk membatasi konsumsi makanan-makanan dengan potensi pro infalamsi yang lebih tinggi. Beberapa contohnya adalah daging merah, daging olahan, jeroan, karbohidrat olahan seperti tepung putih dan nasi putih, serta minuman bergula.

Sebaliknya, Dr Li menyarankan agar masyarakat memperbanyak makanan dengan potensi antiinflamasi yang lebih tinggi. Studi berbeda dalam jurnal yang sama menunjukkan bahwa konsumsimakanan dengan potensi antiinflamasi yang tinggi dapat secara signifikan menurunkan biomarker inflamasi. Studi ini juga menunjukkan efek antiinflamasi pada kacang kenari dapat menurunkan risiko penyakit jantung.

"Ketika memilih makanan ke dalam pola makan kita, kita harus memahami potensi pro dan antiinflamasinya," papar Dr Ramon Estruch dari Hospital Clinic di Barcelona, Spanyol.

Sayuran daun hijau merupakan salah satu contoh makanan dengan potensi antiinflamasi yang tinggi. Beberapa contoh sayuran tersebut adalah kale, bayang, kubis, selada air, selada romaine, lobak Swiss, arugula, dan endive.

Contoh lainnya adalah sayuran dengan warna kuning gelap seperti labu, paprika kuning, bean, dan wortel. Makanan lain yang dianjurkan adalah biji-bijian utuh seperti gandum, oat, rye, buck wheat, dan millet.

Buah-buahan juga termasuk ke dalam jenis makanan dengan potensi antiinflamasi yang lebih tinggi. Oleh karena itu, memperbanyak konsumsi buah juga direkomendasikan, khususnya blueberry, delima, jeruk, ceri, stroberi, apel, dan pir.

Beberapa jenis minuman juga turut direkomendasikan, seperti teh dan kopi. Selain itu, Dr Li merekomendasikan minyak zaitun ekstra virgin dan ikan berlemak.

Makanan-makanan yang direkomendasikan ini mengandung senyawa antiinflamasi seperti vitamin, karotenoid, polifenol, serat, dan asam lemak rantai panjang omega-3.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA