Kamis 05 Nov 2020 15:00 WIB

PGN Alirkan Gas Bertahap ke 6.706 Rumah Tangga di Semarang

Pengaliran gas rumah tangga bagian dari upaya mewujudkan Kemandirian Ekonomi

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Gita Amanda
Petugas PT PGN melakukan pengecekan rutin stasiun pengaturan tekanan gas jaringan gas (jargas) pelanggan rumah tangga, (ilustrasi).
Foto: ANTARA/M N Kanwa
Petugas PT PGN melakukan pengecekan rutin stasiun pengaturan tekanan gas jaringan gas (jargas) pelanggan rumah tangga, (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) sebagai Subholding Gas PT Pertamina (Persero) dan komitmen dalam menyelesaikan penugasan pemerintah, kembali melaksanakan pengaliran gas (Gas In) bertahap untuk Rumah Tangga Kota Semarang, tepatnya di Kecamatan Semarang Barat. Pengaliran gas di wilayah Semarang Barat ini sebanyak 6.706 Sambungan Rumah (SR).

Sales Area Head PGN Semarang, Mochamad Arif, mengungkapkan dengan adanya aliran baru di Semarang, maka total pelanggan gas Rumah Tangga di seluruh Kota Semarang kini tangga sudah mencapai 10.706 SR.

Baca Juga

Jaringan gas yang ada di Kecamatan Semarang Barat ini meliputi Kelurahan Salaman Mloyo, Krobokan, Karangayu, Kalibanteng Kidul, Gisikdrono, Cabean, dan Bojong Salaman. Di Kota Semarang sendiri sudah ada 18 sektor jaringan gas yang tersambung.

Arif menjelaskan, sebelumnya PGN sudah melakukan pengaliran gas di Kecamatan Semarang Timur sebanyak 10 sektor.

Seluruh jaringan gas yang saat ini sudah dinikmati oleh masyarakat Kota Semarang merupakan penyaluran yang bersumber dari CPP Gundih-Blora.

Awalnya pada periode tahun 2014, PGN melakukan penyambungan jaringan pipa gas melalui inovasi pioneering cluster CNG di Kawasan Industri Tambak Aji Semarang. Tak hanya diperuntukkan bagi pelanggan industri,  elanjutnya PGN mengalirkan gas dari klaster CNG tersebut ke rumah tangga di sekitar kawasan sebanyak 150 pelanggan rumah tangga.

Dari inovasi pioneering tersebut kemudian dilanjutkan dengan penugasan pemerintah melalui Kementerian ESDM dengan dana APBN untuk mengalirkan gas dari Blora ke Semarang Timur pada tahun 2016.

“Untuk pertama kalinya dulu, PGN berinovasi mengembangkan layanan gas bumi menggunakan CNG Tambak Aji di Semarang agar masyarakat setempat dapat merasakan manfaat gas bumi secara langsung. Setelah Semarang Timur, kini wilayah Kecamatan Semarang Barat sudah dapat ikut merasakannya,” papar Arif, Kamis (5/11).

“Dukungan dari berbagai pihak tentu menjadi salah satu faktor pendorong realisasi Acara Pengaliran pertama gas yang menuju ke Kecamatan Semarang Barat ini melibatkan pihak-pihak terkait antara lain lurah Kalibanteng Kidul, Ditjen Migas, Kementerian ESDM dan Pemerintah Kota Semarang,” imbuh Arif.

Arif mengungkapkan, pemanfaatan gas untuk rumah tangga di Semarang ini sebagai bentuk komitmen PGN dalam melaksanakan penugasan dari pemerintah melalui Kementerian ESDM. Tahun 2020 ini, Kementerian ESDM memberikan tugas kepada PGN melalui Kepmen ESDM No 85K/16/MEM/2020. Penugasan tersebut untuk melakukan pembangunan dan pengoperasian jaringan gas (jargas) untuk pelanggan dengan kategori rumah tangga dan pelanggan kecil. Semarang menjadi salah satu wilayah yang mendapatkan alokasi pembangunan jargas sebanyak 6.706 SR, bersamaan dengan Kabupaten Blora sebanyak 4.019 SR.

Arif berharap, kolaborasi dengan Kementerian ESDM pada pembangunan jaringan gas rumah tangga pemanfaatan gas bumi dapat memperluas pemanfaatan gas bumi oleh masyarakat Jawa Tengah untuk kebutuhan maupun produktivitas sehari-hari.

“Pada dasarnya pengaliran gas rumah tangga juga bagian dari upaya mewujudkan Kemandirian Ekonomi RI yang terangkum dalam program Nawa Cita Pemerintah RI. Dengan demikian, pembangunan jaringan gas ini merupakan Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi yang persediaannya melimpah, bersamaan dengan upaya mengurangi impor gas tabung,” jelas Arif.

Arif mengemukakan, penggunaan gas bumi lebih ekonomis. Jika dihitung konsumsi per bulan maka untuk satu rumah tangga rata-rata membutuhkan 15 meter kubik dengan tarif per kubik sebesar Rp 4.250, maka total penggunaan dalam satu bulan ialah sebanyak Rp 63.750.

“Selain ekonomis, gas bumi yang dialirkan melalui pipa tidak memerlukan tempat penyimpanan dan tidak perlu khawatir akan kehabisan stok. Pembayaran pun dilakukan pada akhir bulan setelah pemakaian dihitung pada meter,” ujar Arif.

Sementara itu, Agung Rochman Solichi, selaku Construction Area Superintenvent (CAS) PGN yang ditunjuk untuk melakukan pembangunan gas, bersama tim tak henti untuk memberikan edukasi terlebih dahulu kepada calon pelanggan. Biasanya, edukasi dilakukan sebelum sambungan jaringan gas menuju ke rumah tangga.

"Bicara soal konstruksi penyaluran jaringan gas, tentu juga bicara tentang keamanannya. Perlu di ketahui sejak dari metering and regulating station (MRS), sudah ada pengaman. Yakni Presure Safety Valve (PSV), didisain khusus untuk melepaskan tekanan berlebih yang ada di equipment dan sistem perpipaan pada jaringan gas,” terangnya.

Ia melanjutkan, pipa yang ada di jaringan dan biasanya terletak di pinggir jalan juga sudah diberi rambu. Tujuannya tak lain supaya masyarakat dan pengguna jalan mengetahui bahwa di dalam tanah lokasi tersebut terdapat jaringan gas. Sedangkan di dalam jaringan rumah tangga, juga terpasang pengaman yaitu regulator, di mana di dalamnya selalu ada vale dan sticker petunjuk apabila terjadi masalah.

“Sticker yang terpasang pada regulator gas rumah tangga menjelaskan tentang bagaimana penanganan pertama jika terjadi kebocoran gas. Jika tercium aroma gas, pihak penghuni rumah bisa langsung menelpon contact center yang tercantum pada stiker. Hal itu sebaiknya dilakukan setelah menutup valve atau keran yang ada di regular dan kompor. Lalu membuka sirkulasi udara dengan membuka jendela ataupun pintu. Hindari pula menghidupkan listrik atau api selama bau gas masih tercium,” jelas Agung.

Lebih lanjut Agung menjelaskan, tekanan gas pada jaringan gas rumah tangga termasuk sangat rendah, berada di sekitar angka 0,03 bar yang membuat tingkat keamanannya lebih baik.

Kemudahan pembayaran juga menjadi fokus utama PGN, untuk memberikan layanan yang terbaik untuk pelanggan. Maka, untuk pembayaran gas dari PGN bisa melalui Bank Mandiri, Bank BTN, Bank BNI, Bank BRI, Bank BCA, Pos Indonesia, Alfamart, Indomaret, dan Alfamidi.

Pembayaran online disediakan melalui Gopay, Tokopedia, Dandan, dan Link Aja. Bagi  masyarakat yang yang tidak terjangkau ATM, cabang bank, maupun minimarket, pembayaran dapat dilakukan melalui loket PPOB. Payment Point Online Bank ini merupakan semacam agen yang ditunjuk untuk bisa melakukan proses pembayaran tagihan gas.

“PGN juga menyediakan contact center untuk seluruh wilayah di Indonesia apabila terjadi kendala, di nomor 1500-645,” tutup Arif.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement