Thursday, 15 Jumadil Akhir 1442 / 28 January 2021

Thursday, 15 Jumadil Akhir 1442 / 28 January 2021

Dokter: Sesak Napas Tanda Penting Gejala Pneumonia

Kamis 05 Nov 2020 14:29 WIB

Red: Nora Azizah

Gejala sesak napas pada pneumonia berbeda dari pilek atau flu (Foto: ilustrasi)

Gejala sesak napas pada pneumonia berbeda dari pilek atau flu (Foto: ilustrasi)

Foto: Republika
Gejala sesak napas pada pneumonia berbeda dari pilek atau flu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pneumonia bisa menyerang anak-anak hingga lansia. Namun, gejala pneumonia sering disalahartikan sebagai selesma atau pilek seperti demam, batuk, dan kehilangan nafsu makan.

Padahal, menurut Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr dr Nastiti Kaswandani, selain gejala itu, penderita juga bisa mengalami sesak napas. Kemudian, berbeda dari pilek ataupun flu, napas penderita bisa tampak sangat cepat dari biasanya.

"Curigai pneumonia kalau gejalanya berlanjut, (yakni) demam 2-3 hari. Tanda penting lainnya anak terlihat napasnya lebih cepat dari biasanya, sesak napas," ujar dia dalam talk show virtual bertema "Selamatkan Anak dari Bahaya Pneumonia di Masa Pandemi", Kamis (5/11).

Nastiti mengatakan, ketika gejala seperti ini muncul, segeralah membawa penderita ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan dini dan menyelamatkan nyawanya. Pneumonia terjadi akibat peradangan pada kantong udara (alveoli) di paru-paru karena infeksi bakteri, virus dan jamur. Namun, yang paling umum diakibatkan bakteri Streptococcus pneumoniae (pneumococcus), sehingga menyebabkan kantong udara itu terisi dengan cairan dan nanah.

Akibatnya, selain mengalami kesulitan bernapas, penderita juga bisa mengalami berbagai komplikasi serius mulai dari abses paru-paru, infeksi darah atau sepsis, gagal organ hingga kematian. Perjalanan gejala ini biasanya berlangsung kurang dari 14 hari.

"Paru organ penting untuk pertukaran oksigen, kalau ada gangguan di jaringan paru, terisi sel radang, maka fungsi pertukaran oksigen bisa terganggu dan anak bisa kekurangan oksigen. Kalau tidak ditangani bisa menyebabkan kematian," papar Nastiti.

Bakteri pneumococcus sendiri berpindah melalui udara, misalnya, ketika batuk atau bersin, darah atau permukaan terkontaminasi. Untuk melindungi diri dan infeksi bakteri ini, penerapan perilaku hidup bersih termasuk mencuci tangan dengan sabun dan menjaga sistem imun tubuh menjadi kunci penting.

Selain itu, bisa juga dengan imunisasi PCV (pneumococcal conjugate vaccine). Imunisasi ini bisa mulai diberikan pada balita di bawah usia 2 tahun hingga lansia berusia di atas 50 tahun dan untuk menentukan jadwal imunisasi yang tepat, Anda perlu berkonsultasi dulu dengan dokter.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA