Kamis 05 Nov 2020 09:52 WIB

Tiga Bandara AP II Jadi Lokasi Pengembangan EBT

Penggunaan EBT di bandara AP II untuk melengkapi sumber listrik dari PLN.

Rep: Rahayu Subekti/ Red: Friska Yolandha
 Bandara Soekarno-Hatta mulai bulan ini mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Gedung Airport Operation Control Center (AOCC). Saat ini operasional PLTS tersebut dalam rangka uji coba dan akan beroperasi penuh rencananya pada 1 Oktober 2020.
Foto: Angkasa Pura II
Bandara Soekarno-Hatta mulai bulan ini mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Gedung Airport Operation Control Center (AOCC). Saat ini operasional PLTS tersebut dalam rangka uji coba dan akan beroperasi penuh rencananya pada 1 Oktober 2020.

REPUBLIKA.CO.ID, Jakarta -- Tiga bandara PT Angkasa Pura II (Persero) menjadi lokasi pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT). Direktur Utama AP II Muhammad Awaluddin mengatakan akan fokus menerapkan penggunaan EBT di seluruh bandara.

AP II dan PT Len Industri juga sudah menandatangani nota kesepahaman tentang Kajian Potensi Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Lingkungan PT Angkasa Pura II. “Akan dilakukan kajian teknis implementasi EBT di tiga bandara yakni Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Bandara Kualanamu di Deli Serdang, dan Bandara Banyuwangi,” kata Awaluddin dalam pernyataan tertulis yang diterima Republika.co.id, Kamis (5/11).

Baca Juga

Dia mengharapkan kajian teknis sudah usai pada akhir 2020. Dengan lokasi kajian di tiga bandara tersebut, Awaluddin menilai kondisinya sudah sangat memadai.

Awaluddin menuturkan, Bandara Soekarno-Hatta adalah bandara terbesar dan Kualanamu adalah kedua terbesar. Sementara Banyuwangi merupakan bandara yang pembangunannya sudah mengarah ke konsep green airport.

Saat ini di Bandara Soekarno-Hatta juga sudah terpasang PLTS tepatnya di gedung Airport Operation Control Center (AOCC). Sebanyak 720 solar panel system dengan photovoltaics berkapasitas maksimal 241 kilo watt per peak (kWp) dipasang di atap gedung guna mengaliri listrik ke peralatan-peralatan canggih di AOCC yang sangat vital dalam menjamin kelancaran operasional di Bandara Soekarno-Hatta.

Dia menegaskan, tujuan penggunaan EBT di bandara AP II untuk melengkapi sumber listrik dari PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN. Selain itu juga untuk meminimalkan biaya konsumsi listrik dan menerapkan konsep green airport.

“Misalnya di Bandara Soekarno-Hatta, penggunaan EBT sebesar 10 persen dari kebutuhan saja itu sudah sebesar 6,5 megawatt. Itu sudah termasuk cukup besar untuk penggunaan EBT,” ungkap Awaluddin.

Dalam 2 tahun mendatang, Awaluddin menargetkan penggunaan EBT di bandara AP II dapat mencapai 10 persen dari total penggunaan atau konsumsi listrik. Dia menuturkan, implementasi EBT juga merupakan strategi perseroan di dalam mengimplementasikan Business Survival Initiatives di tengah pandemi, serta melakukan optimalisasi melalui pivoting business atau mencari peluang yang ada.

Sementara itu, Direktur Utama PT Len Industri Zakky Gamal Yasin memastikan kesiapan terkait kajian implementasi EBT di tiga bandara AP II sudah lengkap. “Nanti kajian tersebut bisa disinkronkan dengan roadmap AP II untuk seluruh bandara, sehingga mendukung rencana jangka panjang AP II,” ungkap Zakky.

Direktur Konservasi Energi Ditjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Hariyanto mengatakan akan melakukan kajian mengenai pengembangan EBT di Bandara Banyuwangi.

Sebelumnya, AP II dan Ditjen EBTKE Kementerian ESDM juga sudah menandatangani MoU tentang Penerapan Konservasi Energi dan Pemanfaatan Energi Terbarukan Secara Berkelanjutan Pada Bandara Udara.

“Kajian teknis nanti bisa disinergikan. Kami akan mengawali kajian teknis di Bandara Banyuwangi, dengan melihat workprofile,” tutur Hariyanto.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement